
KUTA – Desa Adat Kuta menjadi pihak yang turut dilibatkan dalam pembuatan penjor penyambutan KTT G20. Bukannya menggandeng vendor, Desa Adat Kuta lebih memilih melakukannya secara swakarya melalui pemberdayaan para yowana 13 banjar se-Desa Adat Kuta.
Alasannya menarik, yakni memanfaatkan momentum tersebut untuk sekaligus mengedukasi para pemuda generasi penerus dalam hal seni, adat, dan budaya. Khususnya mengenai pembuatan penjor.
“Tujuannya untuk memberikan suatu pembelajaran bagi para yowana 13 banjar. Paling tidak mereka bisa lebih memahami bagaimana membuat penjor,” ungkapnya, Rabu (9/11/2022).
Yang digarap para yowana, katanya hanya untuk yang berukuran sedang. Jumlah totalnya sebanyak 120 penjor, yang nantinya akan dipasang pada jalur-jalur utama dilintasi para kepala negara dan delegasi KTT G20.
“Kalau yang besar jumlahnya 26 penjor. Itu digarap koordinator dan prajuru desa. Penempatannya nanti pada titik-titik tertentu, seperti perbatasan dengan Tuban, Pemogan, dan Bundaran Patung Dewa Ruci,” ungkapnya.
Meski memilih langkah swakarya, Wasista mengakui tidak sepenuhnya dikerjakan sendiri. Yowana, koordinator, atapun prajuru desa adat, hanya melakukan perakitan saja.
“Ini adalah tanggung jawab kami, karena ini adalah nama bangsa. Pemasangan penjor sudah kami lakukan sejak kemarin, besok final, dan kita siap,” tegasnya.
Selain dalam hal penyediaan penjor, Wasista mengungkapkan bahwa Desa Adat Kuta juga dilibatkan dalam hal pengamanan wilayah. Yakni melalui Bantuan Keamanan Adat (Bakamda) dan Forum Sistem Pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat (Sipanduberadat). (adi/jon)








