Kajati Bali Lucurkan Rumah Restorative Justice Griya Adhyaksa di Karangasem

0
101
Kajati Bali Ade Tajudin Stiwarman melakukan pemotongan pita tanda dibukanya Restorative Justice Griya Adhyaksa di Kabupaten Karangasem

KARANGASEM—Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, Ade Tajudin Sutiawarman SH, MH, meresmikan sekaligus meluncurkan rumah restorative justice Griya Adhyaksa Kabupaten Karangasem di Gedung DPRD Karangasem, Kamis (12/5/2022).

Peresmian rumah untuk mencari keadilan hukum itu, dihadiri langsung Bupati Karangasem I Gede Dana dan Ketua DPRD I Wayan Suastika, serta Kajari Aji Kalbu Pribadi selaku yang punya gawe. Kapolres Kareangasem AKBP Rico AA Taruna dan Dandim 1623/Karangasem Lekol Inf Sutikno SM hadir pada acara tersebut.

Menariknya, pelucuran rumah restorative justice Griya Adhyaksa yang meminjam salah satu ruangan di Gedung Dewan tersebut. Menurut Bupati Gede Dana, dengan kehadiran rumah restorative justice tersebut, masyarakat akan semakin melek terhadap persoalan hukum yang ada di wilayahnya.

“Kami sangat berterimakasih, rumah restorative justice sudah diluncurkan di Karangasem. Pastinya kami sangat mendukung penegakkan hukum restorative justice yang sedang digalakan pihak kejaksaan,” ucapnya.

Sebelumnya Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karangasem, Aji Kalbu Pribadi SH.MH, berharap, keberadaan Griya Adhyaksi sebagai temmpat untuk mencari keadilan hukum bisa dirasakan manfaatnya masyarakat Karangasem.

“Kami juga sudah mencangkan desa-desa Griya Adhyaksa sebagai representasi pilar penegakan hukum di Karangasem,” jelas Aji Kalbu Pribadi.

Dihadapan Kajati, Aji Kalbu juga menyampaikan pihaknya juga sudah membentuk agen-agen adhyaksa untuk restoratif justice. Agen-agen ini merepresentatifkan pembekalan dini mengenai budaya penegakan hukum yang berkeadilan, bermanfaat dan memberikan kepastian hukum.

Sebagai wujud pembentukan karakter, kata Aji Kalbu, agen-agen muda adhyaksa diharapkan bisa menjadi menjadi role model yang baik pada lingkungan sekitarnya.

“Kami pilih kawasan gedung DPRD Karangasem sebagai rumah restorative justice karena bersifat independen dan menjadi rumah yang bisa dijadikan tempat untuk menyalurkan aspirasi oleh masyarakat,” ungkapnya.

Diresmikannya rumah restorative justice di Karangasem, semakin melengkapi rumah restorative jastice yang sebelumnya sudah diresmikan Kajati.

“Saat ini sudah ada enam rumah restoratif justice dan Karangasem menjadi yang keenam setelah Tabananan dan Klungkung,” ungkap Kajati Bali Ade Tajudin Sutiawarman SH, MH ditemui usai meresmikan Griya Adhyaksa sebagai rumah restorative justice di salah satu ruangan gedung Dewan Karangasem.

Kajati juga menyampaikan terimakasih kepada Bupati Karangasem I Gede Dana dan Ketua DPRD I Wayan Suastika yang sudah mendukung pelaksanaan prrogram restorative justice tersebut.

“Saat ini, praktek semua institusi penegakan hukum di Indonesia baik Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, Kepolisian Republik Indonesia, dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia telah mengadopsi prinsip keadilan restorative sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan suatu perkara pidana,” kata Kajati.

Kajati menambahkan, Kebijakan Jaksa Agung yang dituangkan dalam Peraturan Kejaksaan Nomor 15 Tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan keadilan Restoratif (Restorative Justice), telah menjadi harapan baru masyarakat untuk menyelesaikan persoalan penegakan hukum yang selama ini terpendam.

Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif tersebut dapat diupayakan untuk dihentikan dengan syarat tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana. Tindak pidana hanya diancam dengan pidana denda atau diancam dengan pidana penjara tidaklebihdari 5 (lima) tahun dan tindak pidana dilakukan dengan nilai barangbukti atau nilai kerugian yang ditimbulkan tidak lebih dari Rp 2.500.000.

“Pemulihan rasa damai dan harmoni dalam masyarakat tidakakandapat diwujudkan penegak hukum tanpa melibatkan masyarakat dan para pihak yang terkait. Pemulihan rasa damai dan harmoni merupakan tujuan tertinggi yang harus dicapai dalam penegakan hukum.Tanpa ada rasa damai dan tanpa harmoniter pulihkan maka keadilan hanya menjadisimbol penegakan hukum saja,” pungkas Kajati Ade. (watt).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seven + 13 =