
GIANYAR – Hingga Kamis 24 Juni 2021, buaya muara masih berkeliaran di Tukad Sangsang, Desa Lebih, Gianyar. Bahkan, binatang buas itu enggan makan bebek yang dipakai umpan oleh petugas BPBD.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Gianyar, Gusti Ngurah Dibya Presasta mengatakan, umpan dalam perangkap yang disiapkan itu berupa bebek berbulu coklat. “Umpan yang pertama kali dipasang, Selasa lalu (22 Juni 2021) masih hidup,” ujarnya, Kamis 24 Juni 2021.
Kini, petugas mengganti umpan dengan bebek putih jambul. “Kami coba bebek putih jambul. Siapa tahu karena warna membuat buaya tertarik,” ungkapnya.
Karena masih berkeliaran, Gusti Ngurah Dibya Presasta mengimbau masyarakat untuk sementara tidak melakukan aktivitas terutama mancing di Tukad Sangsang.
Seperti diwartakan, buaya muara ditemukan kali pertama oleh I Ketut Budiawan (30). Pria asal Banjar Roban, Desa Bitera, Gianyar itu awalnya sedang mancing, Senin 21 Juni 2021 sekitar pukul 11.19 WITA. “Saya mancing di sebelah timur dan saat menoleh ke barat ada sesuatu bergerak di atas kayu. Awalnya saya mengira biawak,” katanya.
Karena penasaran, Budiawan iseng memfoto. Saat diperbesar, ia pun kaget karena objek foto itu merupakan seekor buaya dengan mulut menganga.
Kepala SKW II BKSDA Bali Sulistyo Widodo mengatakan, buaya jenis crocodylus porosus itu memiliki panjang sekitar dua meter dengan diameter 20-30 sentimeter. “Dilihat dari sisiknya, diperkirakan berusia 1,5 tahun. Kemungkinan sebelumnya dipelihara oleh warga kemudian dilepas,” ungkapnya. (jay)








