Jegog Mebarung Menggema di Dunia Maya, Bius Penonton “Mebalih Uli Jumah”

0
284

DENPASAR – Seekor burung jalak putih dengan warnanya yang indah, sifat dan karakteristik burung yang kadang hinggap di pepohonan dengan loncat ke atas, ke bawah ke samping serasa tanpa batas.

Gambaran satwa dilindungi itu dituangkan apik dan khas  dalam garapan tabuh Petegak Jegog mebarung Sekaa Dau Mekar Desa  Manistutu dan Yayasan Kesenian Jegog, Duta Kabupaten Jembrana di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke -43, di Gedung Nawanatya, Kampus ISI Denpasar, Senin 14 Juni 2021 malam.

Pementasan jegog mebarung disiarkan melalui Channel YouTube Disbud Provinsi Bali, tetap menggema.  Pergelaran seni di dunia maya tetap mampu membius penonton di rumah (mebalih uli jumah) dengan menembus angka 400 orang lebih. 

Penampilan kedua duta kesenian asal Jembrana itu masing -masing membawa tiga garapan tabuh dan tarian. Diantaranya tabuh Truntungan berjudul Ngelangun  Semeng, kemudian Tabuh Petegak Jalak Putih dan Tari Makepung.

Tabuh Jalak Putih, yang dipersembahkan  penata ingin menuangkannya kedalam sebuah garapan tabuh petegak jegog dengan sistem pengolahan nada dan ornamentasi musical yang dinamis terlihat sederhana namun bermakna.

Begitu pula andalan tabuh trungtungan  berjudul Ngulangun Semeng menyiratkan pesan mendalam menjaga alam agar tetap asri. Merespon hijaunya pepohonan bergoyang gemulai tertiup angin menyambut sang surya terbit di ufuk timur, diiringi dengan siulan burung yang menyapa pagi.Tabuh ini sangat melegenda di hati pecinta seni jegog.

Selanjutnya, Tari Mekepung garapan I Ketut Suwentra menggambarkan atraksi balapan kerbau sebagai bentuk keceriaan,  kegembiraan para petani ketika mengangkut hasil panennya dari sawah menuju rumah mereka masing-masing.
Sebagai sajian pamungkas, suara gemuruh kedua jegog saling bersahutan dan menggema di Panggung Natya Mandala. Dua barungan jegog yang tampil  secara  bersamaaan dan saling bersahutan mengundang decak kagum penonton yang menyaksikan, tidak saja di Gedung Natya melainkan penonton di rumah.

Penampilan garapan seni jegog duta seni Jembrana ini sejalan dengan konsep PKB yang mengangkat tema PKB ke 43 mengangkat tema “Purna Jiwa: Prananing Wana Kerthi (Jiwa Paripurna Napas Pohon Kehidupan)” . 

Koordinator Sekaa Jegog Dau Mekar I Ketut Suarda mengungkapkan nama Dau merupakan nama pohon di hutan yang mempunyai bunga yang mekar di musim kemarau. Jadi bunga inilah yang mengundang lebah dan kembang hang mengisap sarinya. ” Dari pohon dau inilah betapa indahnya hidup  kita dan melalui  karya tabuh teruntungan ini senantiasa bisa bersinergi sesama sekaa Jegog yang ada di Jembrana,” jelas Ketut Suarda.
Kendati pemanggungan pentas seni Jegog berlangsung secara daring dan luring, dengan keterbatasan jumlah pengunjung. Namun, semangat seniman  mewarisi karya seni yang sangat mendunia ini tetap terjaga. ” Konsepnya jegog sangat khas, sangat dekat dengan atmosfir alam, pertanian, kehidupan pedesaan dimana penabuhnya yang selalu tampil energik, menampilkan karya -karyanya di berbagai kancah tak terkecuali di panggung PKB tahun ini dalam suasana keterbatasan,” kata Kadek Wahyudita selaku Tim Kreatif.
Kadek Wahyu tak menampik, ditengah keterbatasan pementasan karena Pandemi, namun antusias penonton seni jegog patut diapresiasi.” Melihat penonton yang menyaksikan melalui daring luar biasa kita patut apresiasi, tak ada bedanya penonton menyaksikan secara langsung dalam suasana sebelum Pandemi,” tandasnya. (sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here