
DENPASAR – Festival Bali Jani (FBJ) VIII kembali menghadirkan inovasi dalam dunia seni pertunjukan. Salah satu yang mencuri perhatian penonton adalah pementasan Prekuel Wayang Ental bertajuk “Manu Tala Nanti Dulu” garapan Komunitas Kuta Kumara Agung yang dipentaskan di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Minggu (12/7/2026).
Mengusung kisah tentang kerinduan yang mendalam, pertunjukan wayang boneka dengan tampilan kontemporer ini berhasil membawa penonton larut dalam alur cerita. Pementasan diperkaya dengan musikalisasi puisi yang menciptakan suasana sendu dan emosional sepanjang pertunjukan.
Mungkin penyesalan bukan lahir karena kehilangan, melainkan karena keyakinan bahwa masih ada waktu. Bahwa selalu ada hari lain untuk berkumpul, tertawa, dan saling hadir. Bahwa selalu ada nanti. Prekuel Manu Tala: Nanti Dulu adalah refleksi tentang kesempatan membingkai momen yang dibiarkan menguap. “hingga akhirnya kita menyadari bahwa yang paling fana bukanlah waktu, melainkan kesempatan, ” ujar Agung kordinator pementasan.
Kurator Festival Bali Jani VIII, I Made Adnyana, mengatakan Wayang Ental merupakan bentuk seni yang masih tergolong baru bagi sebagian masyarakat. Namun, kehadirannya dinilai sangat sesuai dengan visi Festival Bali Jani yang menjadi ruang bagi perkembangan seni modern dan lahirnya berbagai inovasi kreatif.
“Kalau dilihat, model Wayang Ental ini memang masih tergolong baru bagi sebagian masyarakat. Tetapi jika melihat visi dan misi Festival Bali Jani, saya kira pertunjukan seperti ini sangat tepat karena Balijani memang merespons perkembangan seni modern, kreativitas, dan inovasi,” ujarnya.
Menurut Adnyana, kekuatan pertunjukan tersebut tidak hanya terletak pada bentuk wayangnya yang berbeda, tetapi juga pada teknik pementasan dan cerita yang mampu menjawab tema besar Festival Bali Jani VIII, yakni “Pengembaraan Menuju Jiwa Sejati.”
Ia menilai tokoh Manu dan Tala mampu merepresentasikan tema tersebut dengan baik sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima penonton.
Adnyana berharap Wayang Ental menjadi pemantik lahirnya bentuk-bentuk kesenian baru di Bali. Festival Bali Jani, katanya, tidak hanya menjadi panggung bagi karya-karya yang sudah mapan, tetapi juga membuka ruang bagi inovasi dan eksperimen artistik.
“Mudah-mudahan setelah Wayang Ental akan muncul bentuk-bentuk kesenian baru lainnya. Festival Bali Jani siap menjadi ruang untuk menampung dan memperkenalkan kreativitas itu kepada masyarakat,” katanya.
Kehadiran Wayang Ental menjadi salah satu bukti bahwa Festival Bali Jani terus berkembang sebagai wadah bagi seniman untuk mengeksplorasi bahasa artistik baru, sekaligus memperkaya khazanah seni pertunjukan kontemporer di Bali. (*)








