“Sanggita Karma Yoga Sanyasa”, Pergulatan Jalan Menuju Hyang Maha Ada

0
72

DENPASAR – Perdebatan tentang jalan menuju Hyang Maha Ada tidak pernah selesai sepanjang jaman. Bukan karena tidak mendapatkan titik temu, tapi karena lebih pada perdebatan itu sendiri telah dikendalikan para pemegang kekuasaan.

Pergulatan tentang jalan menuju Hyang Maha Ada diangkat ke dalam sesolahan (pergelaran) seni sastra yang ditampilkan Sanggar Bajrajnyana Music Theater pada Bulan Bahasa Bali ke-3 yang tayang di channel YouTube Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Rabu 10 Februari 2021 pukul 19.00 WITA.

Garapan mengangkat judul “Sanggita Karma Yoga Sanyasa” tersebut berangkat dari dasar dan spirit teater tradisi Bali, yaitu teater yang bersifat total dengan mempergunakan berbagai elemen seni pertunjukan, seperti nyanyian, musik, tari, dan sastra.

Dikisahkan, jalan menuju Tuhan begitu banyak, sesuai dengan kecendrungan dan cara meniti hidup dari para panembah ( Orang yang melakukan sadhana atau disiplin diri dalam jalan yoga atau spiritual). Ada melalui pengetahuan yang membebaskan, ada yang khusuk dengan bakti, ada yang berkarya di tengah pasar dunia, dan ada yang melampaui keterikatan duniawi sebagai pejalan sunyi. Semua itu sejatinya jalan pembebasan jika kesadaran spiritual menjadi tujuannya.

Persoalan jalan manembah ini, dijadikan perdebatan antara dua jalan besar, yaitu Yoga Sanyasa yang dianut Prabu Candra Bhairawa dari Kerajaan Dewantara dan Karma Sanyasa dianut oleh Yudistira Raja Astina Pura. Candra Bhairawa menekankan jalan yoga dengan melampaui lapisan kesadaran, mengembara dalam diri, badan adalah kuil suci untuk menuju Adi Budha. Semua yang ada di alam semesta, merupakan perwujudan dari Sang Keberadaan, oleh karenanya harus disayangi dan dihormati.

Yudisitira sangat memaklumi apa yang dianut oleh Candra Bhairawa karena sudah mengalami panunggalan dalam yoga. Yudistira juga menghormati dan memuja alam sebagai Tuhan yang mewujud. Namun Yudistira menyadari bahwa tidak semua tingkat kesadaran rakyatnya bisa mencapai kesadaran supra. Oleh karenanya diperlukan upaya untuk mencapai kesadaran itu. Upaya ini adalah jalan karma dan bakti. Bagi Yudistira Karma, bakti, dan Yoga tidak dapat dipisahkan. Ke tiga jalan itu, karma, bakti, dan yoga, yang manapun ditempuh dan dilakoni yang lain selalu menyertai karena dasarnya adalah kesadaran spiritual.

Namun, dalam konteks politik kekuasaan ke tiga jalan ini selalu dibenturkan sehingga terjadi konflik dan perang atas nama agama dan keyakinan. Candra Bhairawa dan Yudistira bertemu dalam perang yang dipicu oleh Kresna. Dalam puncak pertemuannya Yudistira dan Candra Bhairawa sejatinya telah mengalami kesadaran supra sehingga bersatu dalam kesadaran Shiwa. Dalam kesadaran murni Yudistira dan Chandra Bhairawa bersatu mengupayakan kesadaran masyarakatnya melalui karma, bakti dan yoga sanyasa. Memuja Tuhan dengan menjunjung kemanusiaan, melayani masyarakat dan dekat dengan alam.

Meski garapan yang disajikan secara virtual itu, dimana pentas dan pengambilan gambar dilakukan seperti cara membuat film, yang tempat pentasnya berpindah-pindah, tetapi masih kental dengan konsep teater arena (panggung). Cerita disampaikan melalui tembang (nyanyian) yang didukung musik dan tari. Melalui tembang inilah pesan filsafat dan spiritual yang menjadi inti dari agama itu disampaikan. Pesan yang dibalut dengan nyanyian dan tari itu memanfaatkan alat musik ricikan (yang diperlukan), bukan memakai barungan gambelan yang utuh, sehingga pesan itu terasa kuat.

Garapan berdurasi sekitar 50 menit itu menggunakan alat musik berupa gender wayang baru (berdaun 14 bilah), suling gambuh laras gender wayang, suling menengah laras gender wayang, bonang barung laras selendro, kenong laras selendro, selentem laras pelog dan selendro, penembung laras pelog, sepasang gong ageng, gong beri ageng (wind gong), kendang bedug, kendang ciblon, kendang sabet, sepasang kemanak, tambura (string instrument dari India) untuk mengiringi vokal, rebana besar atau terbang, perkusi yang terdiri dari berbagai gong beri kecil, dan genta.

Art Director, Konsep dan Naskah Karya Dr. I Gusti Putu Sudarta, SSP., M.Sn mengatakan, cerita yang digarap dalam karya ini diambil dari Tutur Candra Bhairawa yang mengisahkan tentang perdebatan Buda Paksa (Bajradara) yang dianut oleh Candra Bhairawa dari kerajaan Dewantara dan Shiwagama yang dianut oleh Yudistira raja Astina. Yang menjadi perdebatan sengit adalah jalan manembah yang bermuara pada Karma Sanyasa dan Yoga Sanyasa.

Candra Bhairawa manembah melalui jalan yoga sanyasa, memuja dewa yang ada dalam diri, dimana badan atau tubuh adalah meru sarira atau kuil suci dan dalam Padma hati atau Padma hredaya itulah Tuhan sebagai Sanghyang Wairocana atau Adi Budha dipuja. Candra Bhairawa tidak membangun pura, sanggah kabuyutan, arca lingga, pretima, dan tidak melakukan upacara pemujaan karena tidak percaya dengan dewa yang ada di luar diri, apalagi buta kala, pitra. Hal inilah yang menjadi dasar perdebatan.
Gusti Sudarta yang dibantu I Putu Gde Asra Wijaya, S.Sn dan Kadek Dewi Aryani, S.Sn sebagai penata tari serta Dr. I Gusti Putu Sudarta, SSP., M.Sn sebagai penata music membagi garapan itu menjadi beberapa adegan (bagian), seperti; adegan Kidung Manggala Puja, Monolog, Pesantian siki, Kidung Wanwa, Pesantian Kalih, Siat (perang) dan Penyuwud (bagian akhir). (sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here