
BADUNG – Dalam upaya mendorong pendidikan berkelanjutan di wilayah Asia-Pasifik, UNESCO menggelar pertemuan Sub-Regional ESD-Net 2030. Pertemuan ini merupakan bagian dari inisiatif global UNESCO untuk mentransformasi pendidikan dan membantu mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Untuk pertama kalinya Indonesia menjadi Co-Chair dalam Education for Sustainable Development/ESD-Net 2030 sub regional Asia Pasifik. Pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 50 pemangku kepentingan bidang pendidikan di 20 negara Asia-Pasifik ini digelar di Kuta, Senin (12/6/2023).
BACA JUGA: Indonesia Jadi Co-Chair ESD-Net 2030 Asia Pasifik, Pertajam Komitmen Transformasi Pendidikan
Pertemuan diorganisir oleh Kantor Regional UNESCO di Bangkok dan Jakarta, lewat kolaborasi bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia serta dukungan dari Pemerintah Jepang.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbud Ristek, Iwan Syahril menyampaikan bahwa ESD sebagai bagian integral dari penguatan sistem pendidikan, menjadi salah satu elemen penting dalam kebijakan Merdeka Belajar atau Emancipated Learning untuk menangani masalah dalam proses pembelajaran.

“Indonesia dengan Kurikulum Merdeka Belajar yang sudah 24 episode itu memperkuat ekosistem di Indonesia bisa lebih baik lagi dalam mendorong tercapainya ESD,” kata Iwan Syahril yang ditemui usai membuka ESD-Net 2030 sub regional Asia Pasifik di Kuta.
Dikatakan, Merdeka Belajar juga menjadi prasyarat bagi pembelajaran yang berkelanjutan. Pasalnya, perkembangan zaman menuntut SDM era sekarang untuk gemar belajar atau long life learning. “SDM Indonesia tidak akan mampu bersaing secara global dan melakukan pembangunan nasional dengan baik, tanpa adanya pembelajaran berkelanjutan,” jelasnya.
Saat ini, kurikulum Merdeka Belajar digunakan oleh lebih dari 300 ribu satuan pendidikan. Berbagai keunggulan Merdeka Belajar juga diakui oleh sekolah-sekolah yang sudah menerapkannya. Yakni lebih sederhana, artinya fokus pada materi esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya.
“Merdeka Belajar hanya menggunakan konten itu 30% itu lebih sedikit daripada kurikulum yang sebelumnya. Dengan konten yang lebih sedikit maka guru-guru bisa belajar bersama-sama lebih dekat dengan anak-anak,” jelas Iwan Syahril.
Dengan Merdeka Belajar membuat proses pembelajaran di ruang kelas terasa lebih merdeka. Hal ini tentunya akan melahirkan masyarakat yang berkembang secara positif dengan cara yang lebih merdeka di masa mendatang.
Merdeka belajar juga lebih fleksibel, karena ketika anak itu pencapainnya masih dibawah bukan anaknya yang disalahkan, tetapi guru atau sekolah yang harus bisa ‘menjemput’ anak untuk naik level.
Selain soal kurikulum, Iwan Syahrir juga menjelaskan tentang program guru penggerak yang juga menjadi bagian dari Merdeka Belajar. Dikatakan, melalui guru penggerak Kemendikbud Ristek terus melakukan pembelajaran. Salah satunya adalah membentuk komunitas belajar di sekolah. “Seperti di sekolah-sekolah luar negeri, kami membentuk komunitas belajar di dalam sekolah agar antar guru bisa saling bantu dalam meningkatkan kapasitasnya masing-masing,” jelasnya. (dha)








