
KLUNGKUNG- Penggunaan teknologi informasi dalam pelayanan kesehatan dinilai memberikan kontribusi pada efektivitas pelayanan kesehatan.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Klungkung misalnya, dalam beberapa pelayanan sudah mengadopsi penggunaan teknologi. Beberapa pelayanan sudah bisa diakses secara daring seperti, e-rekam medis, pendaftaran online serta yang terbaru e-resep.
E-resep mulai diberlakukan sejak 1 November 2022. Namun, pasca alih teknologi ini, pihak RSUD Klungkung wajib mengadakan sosialisasi minimal dalam sebulan. Pasalnya, memasuki hari ketiga Kamis (3/11), banyak pasien atau keluarga pasien tidak mengerti proses atau alur e-resep.
Terjadi antrian panjang terutama saat pasien/keluarga pasien hendak menscan barcode. Sebaliknya pasien yang tidak membawa handphone, masih kebingungan mencari tahu dimana mereka mendapatkan informasi soal antrian dan pengambilan obat.
Sistem e-resep, pasien yang sudah selesai menjalani pemeriksaan/didiagnosa oleh petugas medis, tidak lagi mendapatkan fisik resep. Karena petugas medis langsung menginput resep ke dalam sistem yang terintegrasi ke bagian farmasi.
Pantauan di RSUD Klungkung, Kabid Penunjang Pelayanan Medis, Wayan Suardana tampak mensosialisasikan kebijakan baru manajemen RSUD Klungkung melalui pelantang.
“Kami sampaikan kepada pasien atau keluarga pasien, sejak 1 November 2022 RSUD Klungkung menggunakan sistem digital dalam pembuatan resep, namanya e-resep. Dengan sistem ini, dokter tidak lagi menulis resep di atas kertas. Resep langsung dilayani oleh petugas farmasi, setelah dokter menginput data obat,” terang Suardana.
Suardana meminta pasien atau keluarga pasien untuk memantau di layar televisi yang disediakan di ruang tunggu.
“Mohon diingat nomor antrian dan nomor rekam medisnya, silahkan dilihat di layar televisi. Ngiring sareng-sareng (mari bersama-sama) bersabar, perlu penyesuaian. Semoga semua masyarakat bisa menikmati hasil perubahan ini,” imbuh Suardana.
Suardana dikonfirmasi menyatakan, bisa memaklumi masih ada kebingungan pasien atau keluarga pasien karena pemanfaatan teknologi ini baru tiga hari.
“Ada keraguan pasien mereka tidak dilayani karena tidak membawa resep. Hari pertama saya pantau agak krodit, hari kedua sudah mulai lancar. Kami perlu sosialisasi berkelanjutan karena orang yang datang tidak semuanya orang yang sama,” kata Suardana.
Ia menjelaskan, pasien atau keluarga pasien tidak perlu khawatir dan resah. Pasien yang sudah selesai didiagnosa oleh petugas medis, tinggal menunggu di ruang tunggu untuk pemanggilan obat.
Bagi pasien yang tidak membawa handphone atau tidak mengerti penggunaan handphone, untuk memantau proses pengurusan resep sudah disiapkan layar monitor.Sedangkan yang membawa handphone,pasien bisa menscan barcode yang petugas pelayanan dan bisa dipantau dari handphone.
“Dalam monitor itu ada tiga menu, menunggu, sedang dilayani, obat siap. Tinggal dicocokkan nomor antrian dan nomor rekam medisnya. Dalam menu itu juga ada nama pasiennya. Jadi pasien bisa mengatur waktunya dengan baik,” jelas Suardana.
Ia menambahkan penggunaan e-resep untuk mempercepat pelayanan, menghindari terjadinya human error (kesalahan).
Salah seorang keluarga pasien bernama Adi, mengungkapkan pasien sempat bingung tidak bisa menscan barcode karena tidak membawa handphone.
“Di loket pelayanan, yang mau scan barcode juga mengantre. Saya sendiri juga sempat bingung,” kata Adi. (yan)








