
KUTA – Sekaligus memperingati hari jadinya yang ke-XX, Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) melaksanakan Musyawarah Nasional (Munas) ke-V, di Kuta, Kamis (13/10/2022) malam.
Salah satu yang dibahas, yakni mengenai transformasi menuju pengawas yang profesional, kreatif, dan inovatif.
“Kedepan kita akan bertransformasi menjadi pengawas-pengawas yang profesional, serta selalu hadir untuk mendampingi sekolah dan bapak/ibu guru,” ungkap Ketua Umum APSI (periode 2017-2022), Agus Sukoco, sesaat setelah Pembukaan Munas V APSI 2022.
Disadarinya, dalam menjalankan tugas sebagai pengawas tentu ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Tantangan tersebut bergerak dinamis, sehingga dibutuhkan sebuah kompetensi dan kinerja baru.
“Munas ini sekaligus sebagai ajang untuk saling berkolaborasi antar semua pihak, baik vertikal ataupun horisontal. Dan kita akan terus berlajar,” ucapnya didampingi Ketua APSI Bali, Ngakan Putu Suarjana.
Pengawas, sambung dia, sesungguhnya merupakan bagian dari sebuah ekosistem di sekolah. Bahkan wajib menjadi contoh atau teladan, untuk melakukan perubahan-perubahan.
“Seperti yang tadi sudah disampaikan Prof Nunuk, mari kita semuanya bertransformasi untuk menjadi agen-agen perubahan,” ungkapnya.
Transformasi dimaksud, adalah mulai dari mindset. Yang bukan hanya mengawasi dokumen, melainkan juga hadir mendampingi.
“Harapannya kedepan yakni antara guru, kepala sekolah, dan pengawas itu akan menjadi satu kesatuan dalam memajukan pendidikan yang semuanya berorientasi kepada para murid,” sebutnya.
Setelah mindset, tantangan kedua adalah skillset. Para pengawas dituntut harus memiliki penguasaan terhadap keterampilan-keterampilan baru.
“Dan terakhir, adalah toolset. Jadi bagaimana pengawas ini memiliki kemampuan untuk menggunakan semua perangkat. Termasuk dalam kaitannya dengan teknologi digital. Dengan demikian maka pengawas bisa melakukan pendampingan, mentoring, dan pembinaan, sehingga bisa bermanfaat,” sambungnya.
Sederhananya, transformasi yang dimaksudkannya itu adalah transformasi ekosistem. Hal tersebut didukung pengelolaan sekolah efektif, yang dimulai dari pembelajaran paradigma baru.
“Pembelajaran paradigma baru adalah pembelajaran yang berdiferensiasi. Kenapa? Karena anak-anak kita ini sekarang adalah unik, yakni anak-anak yang beragam. Jadi pendekatannya juga tidak bisa hanya menggunakan satu pendekatan. Pendekatannya juga harus beragam, sesuai karakteristik anak-anak kita,” jelasnya.
Hal tersebut, tambah dia, tentunya senada dengan peranan pengawas. Yang wajib memberikan pendampingan, sesuai keberagaman para guru dan sekolah.
“Beruntungnya sekarang ada satu sistem yang disebut dengan rapor pendidikan. Itulah dinamakan Asesmen Nasional, yang sekarang ini progresnya sudah sangat bagus. Hanya dari satu data, kita bisa menganalisis bagaimana tingkat literasi di sekolah, numerasi, karakter, pengembangan ekosistem kebhinekaannya, dan juga keamanan sekolah,” sambungnya.
Sementara untuk diketahui pula, Munas tersebut dihadiri oleh 473 peserta dari 34 provinsi seluruh Indonesia. Pelaksananya di pulau dewata sekaligus memperingati hari ulang tahunnya ke-XX, mengingat APSI merupakan asosiasi yang lahir di Bali pada tahun 2002 silam.
“Transformasi peran tadi akan kita susun, kita kembangkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang baru nanti. Karena Munas ini adalah dalam rangka melakukan perubahan-perubahan yang sesuai dengan tuntutan perubahan di era Merdeka Belajar,” imbuhnya. (adi/jon)








