
SALAH seorang pebasket putri Bali Fitria Ramadhani Majid saat melewati pemain lawan (wb/PBPONXXPapua)
JAYAPURA – Terpaksa harus legowo. Itu yang dirasakan tim basket putri 3×3 Bali setelah gagal merealisasikan targetnya meraih emas, setelah impiannya dikubur oleh tim tuan rumah Papua dengan skor mencolok 4-14 pada babak final bola basket PON XX/2020 di GOR Basket Mimika Sport, Kamis 14 Oktober 2021 malam.
Regita Pramesti dkk harus mengakui ketangguhan Papua karena memang dalam sisi performance tim tuan rumah jauh lebih bagus, meskipun Bali telah bekerja keras untuk bisa menjadi yang terbaik.
Manajer tim basket putri 3×3 Bali, Deddy Setiawan lebih memilih jika kekalahan itu hanya karena faktor kurang beruntung yang dialami timnya.
Bali tidak diuntungkan dengan jadwal karena hanya punya waktu jeda waktu kurang lebih 2 jam saja sebelum final kontra Papua.
“Kami tidak diuntungkan dengan jadwal karena kami harus mengalahkan DKI melalui babak overtime. Pemain kami juga waktu istirahat sebentar saja. Lalu mereka harus melawan tuan rumah,” ungkapnya.
Meskipun hanya mampu mempersembahkan dua perak namun Deddy tetap bangga dengan perjuangan mereka.
“Semua itu karena pencapaian Bali sudah melebihi pendahulunya di PON XV/2000, Jatim yang hanya berhasil mempersembahkan perunggu dari basket putra. 5×5 dan 3×3 ,” imbuhnya.
Sementara itu, di cabor renang, perenang putri Bali Eva Lilian Van Leenen gagal mempertahankan medali emasnya di PON Jawa Barat 2016 di nomor 50 meter gaya dada putri dengan meraih perak setelah membukukan waktu 32, 27 detik pada PON XX 2020 Papua.
Berlomba pada final di Kolam Renang Stadion Aquatic Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura di hari sama malam hari, Eva Lilian kalah cepat dengan perenang Riau yang meraih medali emas dengan catatan waktu 32 detik, 69. Sementara medali perunggu diraih Nurita Monica Sari (Jatim) dengan catatan waktu 33 detik. (ari)








