
KLUNGKUNG-Selama masa pandemi yang diwarnai adanya pembatasan interaksi langsung masyarakat, Museum Nyoman Gunarsa punya strategi untuk merawat koleksi yang jumlahnya segudang dalam bantuk patung, lukisan berumur berabad-abad, rumah adat Bali, keris dan benda berharga lainnya. Pengelola museum memanfaatkan bahan alami yang diambil dari taru premana (tanaman obat-obatan).
Menurut pengelola museum yang didirikan tahun 1990 oleh sang maestro Nyoman Gunarsa, Nyonya Indrawati Gunarsa, selama masa pandemi tetap membuka pelayanan literasi. Bahkan kata pegawai museum setempat beberapa kali ada kunjungan dari Australia ke Museum Nyoman Gunarsa.
Meski demikian, pengelola museum memberlakukan aturan protokol kesehatan (prokes) cukup ketat bagi pengunjung museum. “Interaksi dengan pencinta museum tetap kami jaga selama masa pandemi. Saat ini kami focus pada strategi pemeliharaan dan pengawetan koleksi. Sebentar lagi pariwisata katanya akan dibuka,kami juga beriap-siap menyongsong dibukanya pariwisata,” tandas Nyonya Indrawati Gunarsa ditemui Minggu 18 April 2021.
Indrawati Gunarsa memberikan perhatian serius perawatan koleksi museum. Betapa tidak, koleksi Museum Klasik Bali Nyoman Gunarsa misalnya, banyak menyimpan benda-benda bersejarah yang menjadi simbul peradaban orang Bali (Hindu) sejak berabad-abad. Museum Klasik Bali Nyoman Gunarsa diresmikan oleh Presiden Soeharto.
Sedangkan Museum Kontemporer Indonesia banyak menyimpan benda seni dan bersejarah yang menjadi akar budaya nusantara. Demikian pula Museum Baligrafi, Museum Karya Nyoman Gunarsa, khusus mengkoleksi hasil karya sang maestro yang tidak ternilai harganya. Museum taru premana, khusus mengkoleksi tanaman yang bermanfaat untuk obat termasuk untuk pemeliharaan koleksi museum.
Tidak terlalu berlebihan ketika Nyonya Indrawati Gunarsa menyebut, kalau ingin tahu tentang Bali, datanglah ke Museum Nyoman Gunarsa. “Jangan bicara Bali kalau belum datang ke Museum Nyoman Gunarsa. Saya memang bukan ahli agama, bukan budayawan, tapi saya bicara fakta apa yang dilakukan Pak Nyoman (Gunarsa). Koleksinya beliau itu simbul peradaban orang Bali, semua ada di sini baik dalam bentuk penggambaran patung, lukisan maupun benda bersejarah lainnya,” ungkapnya.
“Jangan asal bicara Bali kalau belum tahu detail adat budayanya. Jangan menghakimi Bali kalau tahu setengah-setengah tentang Bali,” tegasnya. (yan)








