
DENPASAR – Dunia seni dan budaya Bali kembali berduka. Maestro dongeng Bali, I Made Taro, menghembuskan napas terakhir di usia 87 tahun pada Kamis (23/7/2026) dini hari.
Sosok yang selama lebih dari setengah abad mengabdikan hidupnya untuk dunia anak-anak itu wafat setelah menjalani perawatan di RS Bali Mandara.
Kabar kepergian sang maestro disampaikan pihak keluarga. Menantu almarhum, Made Maharini, mengungkapkan kondisi kesehatan Made Taro mulai menurun setelah mengalami keluhan perut kembung yang kemudian berkembang menjadi komplikasi.
“Karena mengalami kesulitan bernapas, bapak akhirnya dirawat di ruang ICU dan berpulang tadi dini hari,” ujar Maharini, Kamis pagi.
Terkait prosesi upacara penghormatan terakhir, keluarga masih melakukan pembahasan. Pihak keluarga juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama hidupnya Made Taro memiliki kekhilafan.
“Mewakili almarhum, kami mohon maaf jika selama hidup ada kesalahan. Mohon doa agar seluruh proses selanjutnya berjalan lancar,” katanya.
Kepergian Made Taro menjadi kehilangan besar bagi kebudayaan Bali. Sosok kelahiran Karangasem tahun 1939 itu dikenal sebagai penjaga tradisi tutur yang tak pernah lelah merawat dunia cerita rakyat, permainan tradisional, hingga gending rare Bali.
Selama sekitar 51 tahun, Made Taro mengabdikan diri memperkenalkan nilai budaya kepada anak-anak. Melalui Sanggar Kukuruyuk yang didirikannya, ia menciptakan ruang bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya Bali melalui dongeng dan permainan.
Bagi Made Taro, dunia anak-anak bukan sekadar ruang hiburan, tetapi tempat belajar tentang ketulusan, kesederhanaan, dan kejujuran.
“Di dunia anak-anak saya banyak belajar tentang kesederhanaan dan kejujuran. Anak-anak itu polos, mereka menyampaikan sesuatu apa adanya,” ungkapnya dalam sebuah wawancara saat masih sehat.
Kecintaannya terhadap dunia anak membuat Made Taro terus berkarya tanpa merasa terbebani. Baginya, mendongeng adalah jalan untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan diteruskan lintas generasi.
Sanggar Kukuruyuk resmi berdiri pada 1979. Sebelumnya, Made Taro memulai dari kelompok kecil di rumahnya dengan mengumpulkan sejumlah anak untuk belajar mendongeng hingga berkembang menjadi sanggar yang dikenal luas.
Selain menjadi pendongeng, Made Taro juga produktif menulis buku. Sejumlah karya yang lahir dari tangannya antara lain Seni Tutur Sang Penolong, Seni Tutur Aku Cinta Ayah Bunda, Seni Tutur Dari Rumah Dongeng, Seni Tutur Dongeng Masa Kini, Seni Tutur Bali Berkisah, hingga Dongengku Cerminku.
Dedikasi panjangnya terhadap sastra dan budaya Bali mengantarkan Made Taro menerima berbagai penghargaan, seperti Adi Karya dari Ikapi, Anugerah Sastra Rancage, Bali Award, Anugerah Permata, Hindu Books & Readers Community, Seni Kerti Budaya, serta Widya Pataka.
Tidak hanya dikenal di Bali, kiprah Made Taro juga mendapat pengakuan internasional. Ia pernah diundang tampil mendongeng di berbagai negara, di antaranya Australia, Afrika Selatan, Singapura, dan Thailand.
Kini, Bali kehilangan salah satu penjaga suara leluhur. Namun kisah-kisah yang dituturkan Made Taro diyakini akan terus hidup, menjadi warisan budaya yang mengalir dari generasi ke generasi.(sur)








