
DENPASAR — Gubernur Bali, Wayan Koster, bersama Putri Suastini Koster, meninjau Museum Mahudara Mandara Giri Buana yang terletak di kompleks Art Center Denpasar pada, Rabu (15/7/ 2026).
Koster meninjau langsung kelayakan bangunan bersejarah yang menyimpan ratusan karya maestro seni Bali. Dari awal dibangun Gedung bersejarah itu tercatat belum pernah mendapatkan perawatan khusus sejak diresmikan lebih dari setengah abad yang lalu.
Turut mendampingi rombongan Gubernur dalam peninjauan ini antara lain Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana; Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRKIM) Provinsi Bali, Nusakti Yasa Wedha; serta Kepala UPTD Taman Budaya (Art Center) Provinsi Bali, I Wayan Mardika Bhuwana.
Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni UPTD Taman Budaya Provinsi Bali sekaligus Kepala Museum Mahudara Mandara Giri Buana, I Gede Arum Gunawan, menjelaskan bahwa gedung museum ini merupakan struktur tertua di kawasan Taman Budaya. Gedung ini diresmikan pertama kali pada tanggal 14 Februari 1973 silam dan saat ini telah menginjak usia 53 tahun.
“Tadi Bapak Gubernur bersama dengan Ibu mengunjungi Museum Mahudara Mandara Giri Buana. Itu merupakan gedung tertua di Taman Budaya yang sudah diresmikan 14 Februari 1973. Tahun ini sudah 53 tahun. Selama 53 tahun, selama 53 tahun gedung ini belum pernah memang mendapat mendapatkan perawatan khusus gitu,” ungkap Arum Gunawan saat diwawancarai seusai kunjungan.
Arum Gunawan tidak menampik adanya keterbatasan anggaran operasional yang selama ini dihadapi pihak pengelola untuk melakukan pemeliharaan menyeluruh. Melalui kunjungan, Gubernur Bali dapat menyaksikan langsung prioritas fasilitas pendukung serta fisik bangunan yang membutuhkan intervensi anggaran dari pemerintah daerah berupa perbaikan dan revitalisasi total.
Berdasarkan hasil peninjauan di lapangan, kerusakan paling parah ditemukan pada bagian atap menara puncak museum. Kondisi atap yang lepas dan hiasan ijuk yang rusak memicu masuknya sejumlah binatang malam yang mengotori area ruang pameran koleksi berharga tersebut.
“Kerusakan yang parah ada di atap gedung yang ada di menara. Jadi, gedung ini ada seperti menara di paling puncak itu atapnya sudah lepas, kemudian hiasan dari ijuknya juga banyak yang lepas, ornamen-ornamennya juga banyak yang rusak. Dan itu menjadi tempat akses masuk binatang-binatang malam seperti kelelawar, burung hantu banyak masuk sehingga dia mengganggu, kotoran-kotorannya mengganggu koleksi kita. Nah, tadi beliau sudah melihat sendiri kondisi itu. Mudah-mudahan segera mendapat tindak lanjut,” urainya.
Meski memiliki kendala infrastruktur, Arum Gunawan menambahkan bahwa Gubernur Wayan Koster tetap mengapresiasi upaya optimal tim museum dalam melakukan perawatan rutin koleksi seni di dalam gedung.
Pihak museum mencatat saat ini memamerkan total 350 karya masterpiece, yang terdiri atas 107 lukisan lintas gaya, 143 patung, 27 seni kriya (termasuk ukiran gading dan perak), serta 28 koleksi seni tekstil.
Akibat keterbatasan ruang pamer, sebanyak 58 karya seni lainnya terpaksa masih disimpan di dalam gudang penyimpanan.
“Untuk di Museum Mahudara Mandara Giri Buana terdiri dari 107 lukisan, kemudian 143 patung, 27 koleksi kriya yang di dalamnya ada ukiran patung gading, ada ukiran perak seperti itu. Kemudian seni tekstil ada 28,” katanya.
“Kemudian seluruhnya total koleksi kita itu ada 350 karya yang dipamerkan di Mahudara. Dan disimpan di gudang penyimpanan itu masih ada sekitar 58 karya yang masih kita simpan di gudang karena keterbatasan tempat jadinya enggak bisa kita pamerkan,” lanjutnya.
Museum ini menyimpan mahakarya dari sejumlah pelukis legendaris Bali maupun luar negeri, seperti gaya lukisan Kamasan karya Pak Mandra dan Pak Semari. Ada pula karya dari I Gusti Nyoman Kobot, I Gusti Nyoman Lempad, Walter Spies, Rudolf Bonnet, hingga seniman nasional Hendra Gunawan.
Secara khusus, perhatian Gubernur tersedot pada lukisan kertas bertinta Cina karya Gusti Nyoman Lempad, lukisan karya Hendra Gunawan, serta teknik lukisan sidik jari ikonik karya I Gusti Ngurah Made Pemecutan.
Terkait masa depan pelestarian karya-karya bernilai sejarah tinggi ini, Gubernur Wayan Koster memberikan arahan strategis agar sebagian lukisan masterpiece dipindahkan ke Pusat Kebudayaan Bali (PKB) yang saat ini tengah dibangun, demi menjamin sistem perawatan yang lebih modern dan intensif.
“Kalau dari Pak Gub, pesannya adalah lukisan ini harus dijaga karena karena apa namanya ini kan maestro semua. Dan beliau menginginkan nanti kelak jika ada pembangunan Pusat Kebudayaan Bali sudah jadi, beberapa lukisan akan disimpan di sana sehingga mendapatkan perawatan yang lebih intensif, begitu. Nah, karena kan kalau lukisan-lukisan itu harus dirawat suhunya, kelembabannya, semuanya harus dirawat, diperhatikan betul. Sedangkan di ruang pameran sekarang kan hanya seadanya, jadinya kita tidak bisa kontrol suhu, kadar keasaman, kadar itu belum bisa kita kontrol karena alatnya tidak ada. Maka beberapa lukisan-lukisan khusus itu nanti yang bernilai sejarah dan penting, arahan beliau akan beberapa nanti akan dibawa ke Pusat Kebudayaan Bali untuk disimpan agar lebih lama kita generasi itu melihat,” bebernya.
Di akhir kunjungan, Gubernur Bali menegaskan komitmennya dengan menuliskan pesan khusus pada buku tamu museum yang menginstruksikan jajaran terkait untuk menjaga dan merawat warisan budaya Bali ini dengan sebaik-baiknya.
“Jadi itu mendapat perhatian khusus tadi dari Bapak Gubernur untuk diperhatikan, dijaga, dan dirawat betul. Sehingga beliau di buku kunjungan tadi menekankan harus dijaga dan dirawat dengan baik. Itu menjadi semangat kami untuk bekerja lebih maksimal lagi di Taman Budaya, khususnya di museum, supaya kinerja apa nama menjaga warisan budaya tersebut,” pungkasnya. (*)








