
BULELENG – Pemkab Buleleng melalui Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Swatantra, telah melirik potensi dari upaya pengembangan Pelabuhan Laut Celukan Bawang (PLCB) dan Bandara Letkol Wisnu di Kecamatan Gerokgak.
Tak hanya menyiapkan regulasi berupa Perda No. 4 tahun 2024 tentang Rencara Tata Ruang Wilayah Detail Tata Ruang Wilayah Kabupaten Buleleng Tahun 2024-2044, untuk mendukung program pemerintah pusat mengembangkan Bandara Letkol Wisnu di Desa Pejarakan dan PLCB di Desa Celukan Bawang Gerokgak sebagai solusi permasalahan transportasi di Bali, Perumda Swatantra juga telah menyiapkan pembangunan ekosistem hulu hilir ketahanan pangan.
“Kami mengapresiasi program pemerintah pusat tersebut sebagai peluang pengembangan usaha terintegrasi, berupa Ekosistem Hulu Hilir Ketahanan Pangan,” ungkap Direktur Utama (Dirut) Perumda Swatantra Gede Bobi Suryanto usai rakor persiapan Rapat Umum Pemilik Modal (RUPM) Perumda Swatantra, Rabu (15/7/2026).
Bobi Suryanto menandaskan, pengembangan pelabuhan udara dan laut di Kabupaten Buleleng ini bukan hanya solusi dalam mengurai semakin padat dan kroditnya transportasi di Bali khususnya di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, tapi juga sekaligus membuka peluang usaha bagi Kabupaten Jembrana, Tabanan dan khususnya Kabupaten Buleleng.
“Pengembangan pelabuhan udara maupun laut, tentu harus dibarengi penguatan regulasi sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah, infrastruktur berupa aksesibilitas jalan sebagai penghubung antar kabupaten kota dan komoditi atau barang yang akan di distribusikan dengan cepat, keluar masuk pelabuhan,” ujarnya.
Melihat peluang tersebut, Perumda Swatantra telah membuat kajian dan tertuang dalam Rencana Bisnis (Renbis) pengembangan usaha berbasis Tri Partit, berupa industri terintegrasi dalam Ekosistem Hulu Hilir Ketahanan Pangan.
“Usaha Tripartit hulu hilir pertanian yang sudah dilakukan bersama BPD Bali dan Subak Sidayu Penarukan, akan kita kembangkan di Gerokgak,” jelasnya.
Sesuai Renbis, kata Bobi Suryanto,pembangunan industri pertanian terintegrasi dalam Ekosistem Hulu Hilir Ketahanan Pangan sudah mulai di rintis Perumda Swatantra bersama Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKP2) selaku pembina dan pendampingan teknis, BPD Bali selaku penyedia permodalan dan petani jagung di Kecamatan Gerokgak.
“Dengan memanfaatkan balai pertanian di Gerokgak, renbis Karantina Hewan atau Kandang Penampungan sebagai salah satu pendukung dari pengembangan Pelabuhan Laut Celukan Bawang sudah dimulai dengan pembinaan serta pendampingan petani dalam budidaya jagung oleh dinas pertanian,” jelasnya.
Melalui program penguatan pangan bersama TNI/Polri, produksi jagung petani dengan modal dari BPD Bali langsung diserap Perumda Swatantra selaku Offtaker dan lanjut di olah menjadi pakan ternak pada rumah produksi yang dibangun bersama DPKP2 Buleleng.
“Hasilnya, kita salurkan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak pada Kandang Penampungan dan peternak ayam yang ada di Kabupaten Buleleng,” terangnya.
Meski dengan keterbatasan modal, kata Bobi, Ekosistem Hulu Hilir Ketahanan Pangan ini sudah mulai berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh petani, para peternak terutama ayam petelur, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi program Makan Bergizi Gratis (SPPG-MBG) untuk pemenuhan kebutuhan bahan pangan pokok, termasuk pemenuhan bapok terutama telur sebagai salah satu komoditi penyumbang inflasi.
“Ekosistem hulu hilir produk pertanian sudah bergulir, dimana dengan bantuan permodalan dari BPD Bali, para petani bisa menanam jagung didampingi penyuluh pertanian, hasil prduksinya kita serap untuk diproduksi lebih lanjut menjadi pakan ternak, kemudian pakan ternak disalurkan kepada kelompok ternak dengan perjanjian hasil produksinya dijual kepada kita selaku offstaker dan telur dari peternak kita salurkan kepada SPPG-MBG dan memenuhi kebutuhan pasar sehingga harganya tetap stabil,” terangnya.
Ia menambahkan, ekosistem hulu hilir pertanian ini tidak hanya memberikan kesejahteraan bagi petani, tapi juga peternak dengan kepastian hilirisasi produk, terpenuhinya kebutuhan SPPG-MBG dan terjaganya stabilitas harga.
Terkait dukungan terhadap pengembangan PLCB, Bobi mengaku optimis Ekosistem Hulun Hilir Pertanian yang telah disiapkan melalui pola Tripartit bersama DPKP2, BPD Bali dan petani ini, tidak hanya dapat mewujudkan ketahanan pangan, tetapi juga mendukung pengembangan PLCB terutama dalam pengiriman ternak antar pulau maupun distribusi bahan pangan pokok (Bapok) Nusantara melalui program Tol Laut.
“Pembangunan industri pertanian terintegrasi untuk ketahanan pangan dan pemenuhan pakan ternak selama di kandang penampungan sebelum diantar pulaukan, tidak hanya mendukung pengembangan Pelabuhan Laut Celukan Bawang, tetapi juga menjadi potensi sumber pendapatan asli daerah, PAD Kabupaten Buleleng,” ungkapnya.
Terkait berapa potensi PAD, Bobi secara diplomatis menyebutkan, sesuai Renbis yang telah dibuat, pengembangan indistri pertanian terintegrasi ini membutuhkan dana Rp22 Miliar dengan proyeksi laba yang dapat disetorkan sebagai PAD sebesar Rp4 Miliar.
“Hal ini akan kita sampaikan kepada Bapak Bupati selaku Kuasa Pemilik Modal, untuk realisasi tentu beliau yang akan menentukan,” pungkasnya.(*)








