
KARANGASEM – Tercatat 47 lulusan Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Karangasem belum melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP pada tahun ajaran 2026/2027.
Data tersebut terdeteksi setelah seluruh proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dilakukan secara daring.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Karangasem, I Gusti Bagus Budiadnyana, mengatakan dari 7.021 siswa SD yang dinyatakan lulus tahun ini, sebanyak 47 siswa belum tercatat melanjutkan ke jenjang SMP.
“Ini keuntungan jika menggunakan sistem pendaftaran online. Kita bisa mengetahui berapa siswa yang tidak melanjutkan sekolah karena langsung terdeteksi oleh sistem,” kata Budiadnyana, Rabu (15/7/2026).
Puluhan siswa tersebut tersebar di tujuh kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Rendang 8 siswa, Abang 10 siswa, Bebandem 5 siswa, Kubu 6 siswa, Karangasem 10 siswa, Manggis 3 siswa dan Selat 5 siswa. Sementara itu, seluruh lulusan SD di Kecamatan Sidemen tercatat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.
Namun, angka tersebut bukan berarti seluruh siswa benar-benar berhenti sekolah. Disdikpora masih melakukan penelusuran terhadap data tersebut. Sebab, beberapa siswa ternyata melanjutkan pendidikan melalui jalur lain, seperti masuk Sekolah Rakyat, Widyalaya, maupun bersekolah ke luar Kabupaten Karangasem.
“Awalnya ada lebih dari itu yang tercatat di sistem. Namun, setelah dilakukan penelusuran, ternyata beberapa di antaranya melanjutkan ke Sekolah Rakyat, Widyalaya hingga sekolah ke luar kabupaten,” jelasnya.
Dari penelusuran awal, alasan siswa belum melanjutkan sekolah cukup beragam. Mulai dari kendala biaya, ingin bekerja, mengikuti orang tua, tidak ada yang mengantar ke sekolah, sakit, hingga keinginan pribadi untuk tidak melanjutkan pendidikan.
Menurut Budiadnyana, alasan yang paling banyak ditemukan justru karena siswa tersebut sudah tidak ingin bersekolah.
Untuk mencegah mereka benar-benar masuk dalam data anak putus sekolah, Disdikpora Karangasem bersama instansi terkait akan melakukan pendekatan langsung. Siswa dan orang tua akan didatangi untuk mengetahui persoalan yang dihadapi sekaligus mencari solusi.
“Kita sebenarnya ingin seluruh siswa bisa melanjutkan sekolah. Namun, jika setelah kami upayakan secara maksimal tetap tidak ingin sekolah, ya bisa dipastikan mereka masuk data anak putus sekolah,” tandasnya. (*)








