
LUMAJANG – Rangkaian Pujawalikrama Setunggil Warsa di Pura Mandara Giri Semeru Agung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berlangsung dengan khidmat dan penuh nuansa spiritual. Upacara yadnya yang menjadi agenda rutin tahunan umat Hindu tersebut diawali pada Minggu (Redite Pon Julungwangi), 31 Mei 2026, dan berakhir dengan upacara bakti penganyaran sekaligus penyineban karya pada Jumat, 10 Juli 2026.
Ketua Panitia Karya, Ida Tjokorda Artha Ardhana Sukawati dari Gianyar, menjelaskan bahwa rangkaian karya diawali dengan matur piuning di Pura Mandara Giri Semeru Agung. Selanjutnya dilaksanakan berbagai tahapan upacara, meliputi nanceb sanggar tawang dan netegan, nunas penggalang sasih, ngadegang Sanghyang Tapini, Guru Dadi, pakemit karya, hingga ngunggahang sunari sebagai bagian dari persiapan menuju puncak karya.

Puncak Pujawalikrama Setunggil Warsa dilaksanakan bertepatan dengan Purnamaning Kasa, Senin, 29 Juni 2026, yang dihadiri ribuan umat Hindu dari berbagai daerah di Indonesia. Seluruh rangkaian upacara berlangsung dengan penuh kekhusyukan sebagai wujud bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus memohon keselamatan, keharmonisan alam semesta, serta kesejahteraan masyarakat.
Menjelang upacara bakti penganyaran dan penyineban karya pada Jumat, 10 Juli 2026, kawasan pura juga dimeriahkan berbagai pertunjukan seni sakral yang mengiringi pelaksanaan yadnya. Di antaranya Tari Legong, Barong, Wayang Lemah Bali, Wayang Jawa, Baris Gede, Topeng Sidakarya, serta Tari Topeng Sakral Gajah Mada yang menjadi daya tarik sekaligus memperkaya nilai budaya dan spiritual dalam pelaksanaan karya.
Upacara bakti penganyaran sekaligus penyineban karya dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah Kabupaten Lumajang, dihadiri oleh ibu Bupati Lumajang, Indah Amperawati sebagai bentuk sinergi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya serta tradisi keagamaan umat Hindu di Nusantara.
Turut hadir mendampingi Ketua Panitia Karya antara lain Wayan Geredeg, Arta Dipa, serta Bendesa Adat Abiansemal, Ketut Nurija, bersama jajaran panitia lainnya yang selama lebih dari satu bulan mengawal seluruh rangkaian pelaksanaan karya.
Prosesi penyineban karya dipuput oleh Jero Gede Batur Mekalihan sebagai rohaniawan pemuput penyineban. Sementara upacara dipimpin oleh para sulinggih, yakni Ida Pedanda Baturiti, Ida Pedanda dari Selat Duda, Karangasem, dan Ida Pedanda dari Gunung Sari, Karangasem, sehingga seluruh rangkaian yadnya dapat berlangsung sesuai sastra dan tradisi Hindu Bali.
Pujawalikrama Setunggil Warsa di Pura Mandara Giri Semeru Agung tidak hanya menjadi momentum peningkatan sradha dan bhakti umat Hindu, tetapi juga menjadi simbol eratnya hubungan spiritual dan budaya antara masyarakat Hindu Bali dengan umat Hindu di Jawa Timur. Kehadiran ribuan pamedek dari berbagai daerah menunjukkan bahwa Pura Mandara Giri Semeru Agung tetap menjadi salah satu pusat pemujaan penting bagi umat Hindu di Indonesia. (arn)








