
GIANYAR – Suasana penuh sukacita menyelimuti Desa Adat Blangsinga, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Minggu (14/6/2026). Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, ratusan krama adat datang silih berganti ke balai adat. Di wajah mereka tampak senyum sumringah. Bukan tanpa alasan, hari itu mereka menerima Tunjangan Hari Raya (THR) dari desa adat.
Sebanyak 565 kepala keluarga (KK) menerima bantuan sebesar Rp300 ribu per KK, yang berasal dari hasil pengelolaan usaha dan aset milik Desa Adat Blangsinga.
Bendesa Adat Blangsinga, I Wayan Murtika, mengatakan pemberian THR kepada krama telah menjadi bentuk komitmen desa adat untuk mengembalikan manfaat hasil usaha kepada masyarakat.
“Krama kami berikan setiap Hari Raya Galungan dan Kuningan. Nilainya Rp300 ribu per KK,” ujar Murtika di sela-sela pembagian THR.
Di balik pembagian THR tersebut, tersimpan kisah panjang tentang bagaimana sebuah desa adat mampu mengubah potensi alam menjadi sumber kesejahteraan bersama.
Puluhan tahun lalu, kawasan air terjun yang kini menjadi destinasi wisata unggulan hanyalah bagian dari lingkungan desa yang belum tertata. Namun berkat kesepakatan para tokoh dan krama adat, potensi tersebut mulai dikembangkan secara bertahap.
“Salah satunya air terjun. Kami tata dan kelola dengan baik. Sekarang ribuan wisatawan datang setiap bulan,” katanya.
Keputusan untuk mengembangkan potensi wisata itu kini membuahkan hasil. Selain menjadi sumber pendapatan desa adat, keberadaan objek wisata Air Terjun Blangsinga juga membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat.
Menurut Murtika, saat ini sekitar 50 warga bekerja dalam berbagai sektor yang terkait dengan pengelolaan destinasi wisata tersebut. Mereka tidak hanya bertugas di kawasan air terjun, tetapi juga menjaga kebersihan lingkungan dan taman-taman telajakan desa.
“Ada sekitar 50 orang yang kami pekerjakan. Selain mengurus kawasan air terjun, mereka juga menjaga kebersihan taman dan lingkungan desa,” ungkapnya.
Baginya, keberhasilan Desa Adat Blangsinga tidak semata-mata karena potensi alam yang dimiliki, tetapi juga karena adanya kebersamaan masyarakat dalam mengelola aset desa secara profesional dan berkelanjutan.
Ia juga mengakui dukungan pemerintah serta para pelaku usaha turut berperan dalam mendorong perkembangan pariwisata di wilayah tersebut.
Kini, Desa Adat Blangsinga berkembang menjadi kawasan one stop tourism yang menawarkan beragam pengalaman bagi wisatawan. Mulai dari wisata alam berupa air terjun, wisata religi, pusat oleh-oleh, hingga aktivitas petualangan yang menjadi daya tarik tersendiri.
Menjelang Galungan dan Kuningan, hasil nyata dari pengelolaan tersebut kembali dirasakan masyarakat. Bagi sebagian krama, THR mungkin bukan sekadar bantuan uang tunai, melainkan simbol bahwa kekayaan desa yang dikelola bersama benar-benar kembali untuk kesejahteraan warga.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi, kisah Desa Adat Blangsinga menunjukkan bahwa ketika potensi lokal dikelola dengan visi yang sama, manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Dari gemuruh air terjun yang mengundang wisatawan, mengalir pula kesejahteraan yang kini hadir dalam bentuk senyum ratusan krama menyambut hari raya. (*)








