
KLUNGKUNG – Ketua Komisi IV DPRD Bali, I Nyoman Suwirta mendorong dua Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Kabupaten Klungkung melakukan transformasi fungsi pendidikan.
Suwirta menyarankan dua sekolah yaitu, SMA Negeri 1 Banjarangkan dan SMA Negeri 1 Dawan selain menjalankan fungsi sekolah regular yang secara umum fokus pada pembelajaran akademik juga melakukan penguatan kompetensi keterampilan kerja khususnya bidang pariwisata, yang ia sebut SMA plus pariwisata.
Mantan bupati Klungkung dua periode ini mengatakan, ide atau gagasan itu lahir setelah dirinya melihat fenomena peminat sekolah reguler di Klungkung tiap tahun berkurang. Siswa lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) lebih memilih melanjutkan ke sekolah vokasi atau sekolah kejuruan yang membuka jurusan pariwisata.
Menurutnya, fenomena ini tidak saja terjadi saat Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB)) tahun ajaran 2026/2027. Tetap kondisi serupa sudah terjadi sejak dirinya pertama kali menjadi anggota DPRD Bali.
“Ada guru SMA yang mengeluh, jumlah pelamar sekolahnya semakin menurun, bahkan ada kelas yang kosong (tidak dapat siswa),” ungkap Suwirta, Senin (29/6/2026).
Sedangkan informasi yang juga ia dapatkan, sekolah swasta baik reguler maupun kejuruan yang membuka jurusan pariwisata justru setiap penerimaan murid baru ‘diserbu’ pelamar hingga melebihi kapasitas. Bahkan ada sekolah swasta yang menolak siswa baru karena kelebihan siswa.
“Pemerintah dalam hal ini berterima kasih kepada sekolah swasta. Tetapi kita juga tidak boleh membiarkan sekolah yang infrastruktur kita bangun, lambat laun akan menjadi tempat kosong,” kata politisi PDIP Dapil Klungkung ini.
Melihat fenomena tersebut Suwirta menggagas memperkuat sekolah reguler dengan menambahkan kompetensi keterampilan di bidang pariwisata menjadi sekolah SMA plus Pariwisata.
Meskipun harus mengalami pergeseran orientasi dari fokus pada akademik menjadi ke fokus pada keterampilan kerja, gagasan Suwirta ternyata sejalan dengan keinginan para guru SMA naupun SMK Negeri di Kabupaten Klungkung.
“Ternyata banyak guru juga berkeinginan seperti itu untuk bisa mendapat peserta didik. Seperti ketika pertama kali SMK di Klungkung membuka jurusan pariwisata,jumlah siswanya semakin bertambah. Sebaliknya jurusan lain seperti manajemen dan akuntansi kurang peminatnya,” imbuh Suwirta.
Suwirta tidak berhenti pada gagasan, ia melakukan komunikasi dengan Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali. Pihak Disdikpora Bali berjanji akan mengkaji terkait usulan tersebut.
“Saya sempat mencari tahu, ternyata boleh SMA plus. Dengan syarat ada SK dari Disdikpora Provinsi Bali,” katanya.
Suwirta menegaskan, gagasan itu bukan untuk bersaing dengan sekolah swasta dalam menjaring peserta didik. Menurut dia, fakta bahwa sejumlah sekolah swasta mengalami kelebihan siswa justru menunjukkan perlunya pemerataan peserta didik guna mendukung peningkatan mutu pendidikan. (*)








