
KLUNGKUNG – Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Klungkung kembali berhadapan dengan tantangan dalam proses penerimaan murid baru tahun ajaran 2026/2027.
Meskipun Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini tidak ada yang berubah, tapi tiap tahun muncul fenomena orang tua murid di Klungkung berbondong-bondong mencari sekolah di perkotaan karena menilai sekolah tertentu memiliki prestise dan mutu yang lebih baik.
Masih kuatnya stigma terhadap label sekolah favorit menjadi magnet yang membuat terjadinya arus urbanisasi pendidikan. Tantangan tidak berhenti pada merubah stigma masyarakat, adanya praktek titip menitip siswa dari oknum pejabat juga menjadi masalah bagi Dinas Pendidikan.
Kepala Kadis Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Klungkung Ketut Sujana mengatakan, dikotomi sekolah favorit dan tidak favorit bisa dihapuskan ketika pemerintah sudah mampu menyamaratakan kualitas/mutu pendidikan, setidkanya standar pelayanan minimal (SPM) diterapkan secara optimal.
“SPMB memang setiap tahun jadi tantangan tersendiri pemerintah daerah, karena paradigma masyarakat masih mengkelas kelaskan (sekolah),” kata Ketut Sujana, Jumat (19/6/2026).
Menurut Sujana, pemerintah daerah sudah berupaya semaksimal mungkin dengan berbagai keterbatasan yang ada. Meskipun diakui sarana prasaran pendidikan belum merata dan kondisi itu yang menyebabkan adanya paradigma sekolah unggulan dan non unggulan.
“Sehingga masyarakat menyerbu dan mencari sekolah yang menurut mereka sekolah unggulan,”imbuh Sujana didampingi Kepala Bidang Pendidikan Dasar Wayan Sarjana.
Tantantan kedepan bagi pemerintah daerah adalah menyamaratakan segala standar di semua jenjang pendidikan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah, seperti kualifikasi guru, sarana prasarana (sarpras) gedung dan ruang kelas.
“Ini yang patut dicermati bersama secara berkala. Ketika setiap sekolah sama layanannya kepada masyarakat maka paradigma itu akan hilang dengan sendirinya, sehingga SPMB akan menjadi tenang kedepannya,” demikian Ketut Sujana. (yan)








