
KUTA – Kawasan pesisir Pantai Kedonganan yang selama ini tersohor sebagai pusat kuliner hidangan laut (seafood) di Bali, bersiap menyambut warna baru. Melalui langkah inovatif, salah satu dari 25 café yang ada di Kedonganan, yakni Lumira Bali, berkomitmen membawa pembaharuan dalam pengelolaan dan konsep kuliner demi memastikan destinasi wisata ikonik ini terus tumbuh dan berkembang pesat.
Menyadari ketatnya persaingan dan peluang pasar yang masih terbuka luas, manajemen Lumira mengungkapkan bahwa pihaknya ingin melangkah melampaui menu hidangan laut tradisional. Langkah ini diambil dengan memperkenalkan alternatif makanan barat (western) serta variasi menu pelengkap lainnya yang belum banyak dilirik di kawasan tersebut.
“Kita melihat baru sedikit yang mengambil target di western. Jadi dari Lumira sendiri kita ingin menciptakan konsep tambahan dari yang sudah ada. Jadi ketika tamu datang, tidak hanya seafood saja yang ingin kita tawarkan, tapi ada konsep-konsep tambahan makanan lain yang menjadi alternatif baru,” ujar perwakilan manajemen Lumira Bali, Raka Widiantara.
Langkah strategis ini menjadi pembeda yang segar, mengingat mayoritas dari 24 café yang beroperasi di Kedonganan saat ini masih didominasi oleh sajian khas Asia. Kehadiran variasi menu baru dari Lumira diharapkan dapat menambah kaya pilihan kuliner bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kedonganan.
Selain tetap menonjolkan menu lokal Bali yang menjadi primadona seperti ikan bakar, Lumira kini melebarkan jangkauan pasarnya secara masif. Kehadiran hidangan barat seperti pasta, steak, hingga pizza disiapkan khusus untuk mengakomodasi para wisatawan yang belum terbiasa dengan cita rasa pedas khas bumbu lokal.
Tidak hanya itu, Lumira juga membidik pasar internasional yang sangat potensial, khususnya wisatawan asal India, dengan menyediakan pilihan menu vegetarian. Komitmen ini didukung dengan kapasitas tempat yang sangat mumpuni. Untuk pelayanan ala carte, Lumira mampu menampung hingga 600 pax, sementara untuk kunjungan wisatawan dalam bentuk rombongan atau grup, kapasitasnya dapat dimaksimalkan hingga mencapai 800 pax.
“Pangsa pasar jelas kita pangsa pasar wisatawan domestik akan ambil. Kita juga ingin sasar juga mungkin ada tamu-tamu yang belum terbiasa dengan rasa pedas. Jadi western itu bisa masuk ke jenis tamu kita. Bahkan untuk alternatif vegetarian pun kita juga ada menu-menunya. Jadi pasar India juga kita sasar,” tambahnya.
Dari sudut pandang strategi pemasaran, Lumira secara khusus membidik segmen pasangan melalui penawaran paket makan malam romantis (romantic dinner). Kendati demikian, kelompok anak sekolah tetap diakomodasi dengan paket wisata yang relevan. Menjelang masa pembukaan dan musim liburan sekolah yang akan datang, berbagai promo menarik telah disiapkan dan akan segera dibagikan secara luas melalui media sosial resmi mereka.
Melihat situasi ekonomi saat ini, manajemen Lumira tidak menampik bahwa isu global menjadi tantangan nyata yang membayangi industri pariwisata. Namun, alih-alih pesimistis, Lumira memilih untuk menghadapi tantangan tersebut dengan optimisme tinggi serta seruan untuk saling merangkul.
“Ini kan isu global yang sudah pasti menjadi kekhawatiran kita semua. Tapi kami optimis ini akan bisa diatasi. Ini memang sebuah tantangan sekali. Ayuk berkolaborasi membangun Kedonganan,” pungkasnya optimis.
Terpisah, selaku Ketua Kelompok Pengelola Lumira Bali, I Komang Gede Jaya Kusuma berharap konsep baru ini bisa benar-benar diterima pasar. Sehingga operasionalnya ke depan, dapat memberikan manfaat kepada masyarakat Kedonganan.
“Café ini bukan milik kami. Melainkan milik desa adat, yang kemudian diserahkan kepada banjar untuk melakukan pengelolaan. Dari 24 café yang ada, masing-masing mendapat empat café. Jadi tentu besar harapan kami, Lumira Bali ini dapat beroperasi dengan baik untuk seterusnya, sehingga secara tidak langsung membantu perekonomian masyarakat Kedonganan. Apalagi dengan adanya café-café ini, juga banyak menampung tenaga kerja,” ucapnya didampingi Sekretaris Kelompok, Made Wirawan. (adi)








