
GIANYAR – Kota Gianyar semakin meriah serangkaian Pekan Budaya Gianyar yang menjadi rangkaian HUT ke-255 Kota Gianyar. Warga hampir setiap hari disuguhi pentas seni dan budaya serta kegiatan meriah lainnya.
Yang tidak kalah seru, pementasan Gong Kebyar Barungan Agung Senin (13/4/2026) malam di panggung terbuka Balai Budaya Gianyar. Pementasan tersebut seakan membius penonton yang memadati Alun-Alun Gianyar.
Pertunjukan itu bukan sekadar pementasan, malam itu menghadirkan konsep yang jarang terlihat, dimana empat sekaa gong dipadukan dalam satu panggung besar. Dua di antaranya diproyeksikan sebagai Duta Gianyar tahun 2026 yakni Gong Kebyar Anak-anak dan Gong Kebyar Wanita, sementara dua lainnya menjadi pendamping sekaligus “penantang” yang akan disiapkan untuk tahun berikutnya.
Tidak saja pertunjukannya yang membuat penonton berdecak kagum, tata panggung yang spektakuler membuat atmosfer semakin hidup.
Gong Kebyar Anak-anak Banjar Kebon Bona Blahbatuh tampil penuh percaya diri, berhadapan langsung dengan energi eksplosif dari Cudamani Pengosekan Ubud. Sementara di segmen wanita, Sanggar Lila Janaki Batuan Sukawati menyuguhkan kehalusan gerak yang berpadu dengan dinamika tabuh dari Sanggar Alit Sundari Batuyang.
“Ini pertama kalinya di Gianyar, bahkan di Bali penyatuan empat sekaa dalam satu konsep pertunjukan yang utuh. Kami ingin menghadirkan akulturasi pertunjukan yang lebih kompleks, sekaligus memberi ruang eksplorasi bagi para seniman,” ujar Kadis Kebudayaan Gianyar I Wayan Adi Parbawa.
Tembang, tabuh, dan tari yang dibawakan bukan hanya hasil latihan teknis, tetapi juga representasi identitas budaya Gianyar yang terus hidup dan berkembang. “Pergelaran ini adalah persembahan utama untuk masyarakat Gianyar sendiri, sebelum nanti dibawa ke panggung yang lebih luas seperti PKB. Ini tentang tanah kelahiran, tentang generasi, dan tentang keberlanjutan budaya,” tegas Adi Parbawa.
Hal senada disampaikan perwakilan Majelis Kebudayaan Bali Kabupaten Gianyar, I Wayan Sudirana. Menurutnya, panggung seperti ini sangat penting sebagai ruang kaderisasi. “Ini langkah konkret pemerintah dalam membina generasi muda di bidang seni. Mereka tidak hanya belajar, tapi langsung diuji di panggung,” ujarnya. (dar,yan)








