
INDIA – Hari pertama World Religions Summit 2025 yang menjadi rangkaian One World One Family – World Cultural Festival 2025, Jumat (21/11/2025), menorehkan sejarah baru bagi dialog lintas agama dunia. Untuk pertama kalinya, pemimpin spiritual dan perwakilan dari 12 agama besar berkumpul dalam satu forum yang sama, menghadirkan suasana penuh kedamaian, penghormatan, dan semangat persatuan.
Dipandu oleh kehadiran spiritual Sadguru Sri Madhusudan Sai, forum ini menjadi penegas bahwa keberagaman keyakinan bukan alasan untuk terpecah, melainkan fondasi kuat menuju masa depan global yang inklusif. Perwakilan Hindu, Kristen, Islam, Yahudi, Jain, Buddha, Sikh, Tao, Shinto, Zoroastrian, Bahá’í, hingga Konfusianisme hadir membawa pesan universal, cahaya kebaikan dari tiap tradisi dapat saling memperkaya dan menyinari dunia.
Refleksi Lintas Iman Warnai Pembukaan
Sesi inagurasi dibuka dengan refleksi dari perwakilan Hindu, Kristen, dan Bahá’í, yang sama-sama menekankan pentingnya spiritualitas sebagai penopang harmoni sosial. Diskusi berlanjut pada dialog Buddha dan Jain yang menggarisbawahi welas asih, prinsip ahimsa, serta tanggung jawab kolektif menjaga keseimbangan dunia sebagai satu keluarga manusia.
Suara pemimpin dari Islam, Sikh, Yahudi, Taoisme, Shinto, Zoroastrianisme, dan Konfusianisme turut memperkaya percakapan, mempertegas satu pesan bersama, meski jalan spiritual berbeda, tujuannya tetap sama, kebenaran, kedamaian, dan kebaikan universal.
Peran Indonesia: Pesan Humanitarian dari Bali
Indonesia menjadi sorotan melalui kehadiran Padmashri Agus Indra Udayana, kini dikenal sebagai Ida Rsi Putra Manuaba, pendiri Shantisena Movement Ashram Gandhi Puri Bali. Sebagai panelis utama, beliau menyampaikan pidato bertema “Religion in Humanity” yang menekankan nilai agama mencapai puncaknya ketika diwujudkan dalam pelayanan kemanusiaan.
Melalui gagasan Humanitarian Service: From Dust to Diamond to Sebagram , Self Project Initiative, serta filosofi Amara Mantra Jai Jagat dan Amara Tantra Gram Swaraj, ia menekankan pentingnya pembangunan desa berkelanjutan sebagai upaya spiritual sekaligus sosial. Konsep Learn, Grow, and Serve dipandang sebagai jalan nyata menghidupkan nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.
Pidato tersebut mendapat apresiasi luas dari para tokoh lintas agama yang melihatnya sebagai model implementasi nilai universal dalam tindakan nyata, bukan sekadar wacana spiritual.
Awal dari Tiga Hari Menuju Persatuan Global
Penutupan hari pertama meninggalkan kesan kuat bahwa dunia tengah melangkah menuju babak baru dalam kerja sama antaragama. Para pemuka agama, biksu, cendekiawan, dan perwakilan spiritual sepakat bahwa dialog lintas iman kini menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga kestabilan dan perdamaian global.
Tiga hari ke depan akan diisi refleksi mendalam, dialog spiritual, dan kolaborasi antar tradisi besar untuk memperkuat pesan utama kegiatan ini,
One World. One Truth. One Family.
“World Religions Summit 2025 sekaligus menjadi pengingat bahwa perbedaan keyakinan bukanlah sekat, melainkan jembatan untuk memahami makna kemanusiaan secara lebih luas, bahwa pada akhirnya seluruh manusia adalah bagian dari satu keluarga besar di bawah cahaya kebenaran yang sama,” demikia Ida Rsi Putra Manuaba dalam press release yang diterima wartabalionline.com.(*)








