
GIANYAR – Neka Art Museum bakal menyelenggarakan forum diskusi bertajuk Indonesian Wave Versus Global Wave in Cultural Industry, Sabtu (14/6/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan INDONESIAN WAVE,Jelajah Negeri, Budaya Bersemi, sebuah inisiatif budaya yang bertujuan memperkuat kesadaran generasi muda terhadap nilai, akar, dan potensi kebudayaan Indonesia di tengah arus globalisasi yang masif.
Lalu apa yang melatarbelakangi forum diskusi tersebut diadakan ?
Arus globalisasi yang kian masif tidak saja menjadi peluang kalau dikelola secara bijak dan cerdas, juga bisa menjadi ancaman bagi budaya lokal maupun budaya nasional.
Direktur Neka Art Museum, Dr Pande Made Kardi Suteja dalam penjelasannya kepada wartawan, Kamis (12/6/2025), saat ini generasi muda Indonesia hidup dalam era digital yang memungkinkan budaya asing masuk dengan cepat dan masif melalui media sosial,streaming platform, hingga fashion dan kuliner.
Melihat kondisi ini muncul kegelisahan, budaya lokal yang kaya nilai dan sejarah semakin tersingkir dari ruang publik maupun kesadaran kolektif. Berangkat dari kegelisahan itu, Neka Art Museum berkomitmen ikut andil mempertahankan,merawat dan mempromosikan identitas budaya Indonesia di tengah arus globalisasi.
Melalui forum diskusi itu Neka Art Museum ingin menghadirkan ruang reflektif dan dialog kritis tidak hanya menggali akar persoalan,tetapi juga merancang proyeksi masa depan bagi kebudayaan Indonesia di kancah dunia. Diskusi itu akan menghadirkan pemikir budaya, seniman,akademisi dan masyarakat umum.
Forum diskusi itu juga dinilai bisa membuka wawasan tentang proses pembauran, adopsi dan adaptasi budaya.
“Dalam diskusi itu akan dibahas tentang arah dan posisi budaya lokal di tengah dominasi budaya global,” tandas Dr Pande Made Kardi Suteja.
Ia menambahkan Indonesia adalah negeri dengan keragaman budaya yang luar biasa, dari Sabang sampai Merauke, setiap wilayah memiliki bahasa,tradisi, musik,tarian dan karya seni rupa yang unik.
Namun, Kardi Suteja melihat, kekayaan ini sering hanya menjadi artefak yang tersimpan dalam museum bahkan sebagian besar berada di luar negeri. Karena itu,melalui INDONESIAN WAVE, Neka Art Museum mengajak semua pihak untuk kembali menjelajahi budaya sendiri, bukan sebagai nostalgia masa lalu,tetapi sebagai inspirasi masa depan.
“Budaya lokal harus kembali menjadi denyut hidup masyarakat, terutama generasi muda, dengan pendekatan yang kreatif, kontekstual dan relevan dengan zaman,” katanya.
Tantangan dan Peluang
Dr Pande Made Kardi Suteja menegaskan, budaya global tidak sekedar menjadi tantangan, tapi juga cermin untuk berbenah. Fenomena yang berkembang kata Kardi Suteja, menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi kekuatan lunak (soft power) yang luar biasa jika dikelola dengan strategi yang tepat.
Menurut Kardi Suteja, Indonesia pun memiliki potensi besar untuk menciptakan cultural wave sendiri asal didukung oleh inovasi, kebanggan kolektif dan narasi yang kuat sehingga tidak terus menerus dikonstruksi oleh kekuatan global.
“Seni tradisional, cerita rakyat, gaya busana khas hingga musik etnik Indonesia bisa menjadi daya tarik global jika dikemas secara modern, kolaboratif dan inklusif,” demikian Pande Made Kardi Suteja.
Tubagus Andre Sukmana,salah seorang narasumber dalam forum diskusi itu menyambut positif kegiatan yang diadakan oleh Neka Art Museum. Tubagus Andre, mantan kepala Galeri Nasional Indonesia ini, melihat forum diskusi yang diselenggarakan Neka Art Museum sebagai sebuah bentuk kepedulian yang tinggi untuk merawat dan melestarikan budaya lokal di tengah gempuran budaya global.
“Ini bentuk kepedulian yang tinggi.Forum diskusi ini sudah mencangkup empat aspek sebagaimana yang dimandatkan oleh Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan meliputi, perlindungan, pengembangan,pemanfaatan dan pembinaan,”ungkap Tubagus Andre Sukmana.
Sementara itu, Benito Lapulalan selaku moderator forum menegaskan pentingnya pembinaan kebudayaan dari hulu ke hilir—mulai dari pelaku seni, museum, sanggar, hingga data budaya daerah yang seringkali terlupakan. Ia juga menyoroti bahwa saat ini Indonesia telah memiliki payung hukum tentang pemajuan kebudayaan, yang harus dimanfaatkan secara optimal.
Forum diskusi yang merupakan rangkaian Program Art Culture@NAM dengan tema Jelajah Negeri Budaya Bersemi, diharapkan dapat menumbuhkan kebanggan dan kecintaan generasi muda terhadap budaya Indonesia, menggugah dunia seni dan industri kreatif untuk lebih banyak mengangkat kekayaan lokal sebagai sumber daya utama serta menjadi wadah kolaborasi lintas sektor dalam mengembangkan budaya sebagai kekuatan bangsa. (yan)








