
KUTA — Sakit kepala kerap dianggap keluhan ringan yang bisa diatasi dengan obat bebas. Namun di balik gejala yang tampak sepele itu, tersimpan potensi gangguan serius seperti tumor otak yang sering kali luput dari perhatian masyarakat.
Dokter Spesialis Bedah Syaraf, dr. Steven Awyono Sp.BS, FTO menuturkan, secara general, kasus tumor otak tergolong tinggi. Bahkan, kondisi ini menjadi salah satu kasus terbanyak dalam bidang bedah saraf selain trauma. Karenanya, edukasi kepada masyarakat dinilai penting agar dapat mengenali gejala sejak dini serta memahami penanganan yang tepat.
Sakit kepala disebut sebagai salah satu gejala awal yang paling umum. Namun karena sifatnya masih sangat abu-abu, banyak orang cenderung abai. Apalagi di pasaran, akses obat Pereda nyeri sangatlah mudah. Gejala yang hilang setelah minum obat kerap membuat penderita merasa aman, padahal sakit kepala berulang bisa menjadi indikasi adanya gangguan serius di otak dan perlu evaluasi lebih lanjut.
“Sakit kepala adalah gejala awal yang memang sangat abu-abu, tapi sering diabaikan. Karena obat sakit kepala itu gampang dicari. Minum obat, gejala hilang. Belum hilang, tambah dosis,” sebutnya di akhir pelaksanan Focus Group Discussion (FGD) ‘Meningkatkan Literasi Publik tentang Tumor Otak’, di Rumah Sakit Kasih Ibu Kedonganan, Senin (20/4/2026).
Meski demikian, sambung dr Steven, tidak semua penderita tumor otak mengalami sakit kepala. Pada beberapa kasus, terutama jika tumor berada di lokasi vital, gejala awal justru muncul dalam bentuk keluhan lain. Karenanya, upaya deteksi dini melalui screening menjadi salah satu langkah penting.
Di sejumlah negara, pemeriksaan rutin umumnya dilakukan pada usia di atas 40 tahun, bahkan ada yang melakukannya setiap lima tahun. Sementara di Indonesia sendiri, kendala biaya masih menjadi tantangan utama. Sehingga ke depan, dukungan pemerintah dalam hal perluasan akses screening menjadi hal yang sangat diharapkan. Bukan hanya untuk tumor otak, tetapi juga gangguan lain seperti stroke akibat penyumbatan.
Tingginya biaya dibutuhkan, diakui dia, berkaitan erat dengan prosedur operasi. Yang mana pasien pada umumnya membutuhkan perawatan intensif di ruang ICU pasca operasi, dengan durasi perawatan yang bergantung pada panjang dan tingkat kesulitan tindakan.
Dalam prosesnya, tim medis tidak hanya fokus pada tindakan operasi, tetapi juga menjaga kondisi otak tetap optimal sebelum, saat, dan setelah operasi. Kolaborasi antara dokter bedah saraf dan dokter anestesi menjadi kunci keberhasilan, termasuk dalam proses pemulihan yang dilakukan secara bertahap.
Namun demikian, tindakan operasi tidak lepas dari risiko. Salah satu yang mungkin terjadi adalah gangguan fungsi seperti penurunan daya ingat, akibat manipulasi pada jaringan otak saat pemisahan antara jaringan sehat dan tumor. Oleh karena itu, pemantauan pasca operasi sangat penting untuk mendeteksi potensi komplikasi.
Pemeriksaan lanjutan seperti CT scan menjadi alat utama untuk memastikan kondisi pasien setelah operasi. Kemajuan teknologi di bidang medis diharapkan dapat membantu menekan risiko komplikasi dan meningkatkan keberhasilan penanganan.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap gejala, terutama sakit kepala yang berulang atau tidak biasa. Deteksi dini menjadi langkah krusial untuk meningkatkan peluang kesembuhan dan mencegah risiko yang lebih besar.
Rumah Sakit Kasih Ibu Kedonganan, adalah salah satu rumah sakit di wilayah Kecamatan Kuta yang siap dengan berbagai layanan diagnostic dalam kaitan penanganan kasus tumor otak. Sebagaimana disampaikan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu Kedonganan, dr. Ni Putu Ayu Utari Laksmi, layanan tersebut berupa CT Scan, MRI, serta fasilitas ruang operasi yang memadai.
Meski demikian, dia tidak memungkiri bahwa biaya penanganan tumor otak tidaklah bisa disebut murah. Kisarannya, yakni mulai dari Rp50 juta ke atas, tergantung tingkat kondisi pasien. Semakin berat kondisi yang ditangani, maka kebutuhan obat, tindakan, serta durasi perawatan akan semakin besar, sehingga berdampak pada peningkatan biaya. “Jadi bisa dilihat apakah kondisinya berat atau masih awal. Kalau memang semakin berat, tentu penanganannya akan lebih sulit. Dan sudah pasti pemakaian obat dan hal lainnya akan mengikuti,” singkatnya. (adi)








