
KLUNGKUNG – Pengabenan seniman legendaris Bali, Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita alias Patih Agung, berlangsung tak biasa. Di tengah langit mendung di Krematorium Pundukdawa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Kamis (22/1/2026), prosesi Pitra Yadnya diiringi pementasan drama gong Pawuwus Ayu yang sarat pesan luhur, menghadirkan tawa, kenangan, sekaligus doa.
Alih-alih larut dalam duka, para pelayat tampak tersenyum dan tertawa lepas. Drama Gong Lakon Pawuwus Ayu yang dipentaskan Paguyuban Drama Gong Lawas (DGL) berkolaborasi dengan Sekhe Drama Gong Maheswari Kabupaten Gianyar menjadi pengantar terakhir bagi almarhum, sosok maestro drama gong yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri pada seni panggung Bali.
Riuh gelak tawa pecah saat tokoh liku yang diperankan Ni Wayan Suratni tampil, menghidupkan suasana. Drama gong pun menjelma bukan sekadar tontonan, melainkan persembahan seni sebagai yadnya.
Koordinator DGL, Anak Agung Gede Oka Aryana, menegaskan pementasan tersebut merupakan bentuk penghormatan dan pangeling-eling atas jasa besar almarhum. “Ini adalah pesan spiritual dan etika, sekaligus penghormatan terakhir bagi beliau,” ujarnya.
Secara filosofis, Pawuwus Ayu bermakna wejangan luhur yang indah dan menyejukkan, nasihat kehidupan bagi atman yang dilepas menuju alam sunia, sekaligus tuntunan bagi keluarga dan masyarakat yang ditinggalkan. Lakon ini dinilai sangat merefleksikan sosok Sugita sebagai intelektual, pengayom, dan seniman sarat kebijaksanaan.
Sugita wafat pada Rabu (7/1/2026) malam di RSU Wangaya, Denpasar. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni pertunjukan Bali dan akademik. Selain dikenal lewat peran antagonis Patih Agung yang melegenda, ia juga merupakan Guru Besar UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
Di bawah langit Klungkung yang kelabu, Patih Agung dilepas bukan dengan ratap, melainkan dengan seni yang ia perjuangkan seumur hidup. (yan)








