
GIANYAR – Seniman asal Banjar Gelogor, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Gianyar, I Nyoman Bratayasa, tampil di panggung nasional melalui pameran tunggal bertajuk “Road to Tatah Natah” di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta.
Pameran yang berlangsung dari 1 November hingga 31 Desember 2025 ini menjadi bagian dari perjalanan menuju perhelatan seni besar “Tatah Natah 2026” di Bali. Acara pembukaan digelar secara eksklusif lewat Intimate Dinner bagi tamu VVIP, menghadirkan suasana hangat dan penuh makna.
Dalam kesempatan itu, para kolektor dan pecinta seni mendapat ruang berdialog langsung dengan Bratayasa tentang perjalanan kreatif dan spiritual yang melandasi karya-karyanya.
Pameran dibuka secara resmi oleh pecinta seni Ifal Ifal Hutagalung, serta turut dihadiri seorang artist hydea asal Jepang.

Bratayasa menampilkan beragam karya, mulai dari lukisan di atas kertas dan kanvas hingga pahatan batu padas.
ia memperkenalkan nilai-nilai spiritual dan filosofi Bali lewat medium visual yang lahir dari pengalaman batin dan kepekaan terhadap kehidupan.
“Setiap karya memiliki roh. Saya ingin menghadirkan semangat spiritual dan kesadaran budaya Bali di setiap guratan dan tatahannya,” ujar Bratayasa saat dihubungi, Selasa (4/11/2025).
Sebelum tampil di Jakarta, Bratayasa baru saja menyelesaikan karya monumental berupa relief batu padas sepanjang 15 meter dan tinggi 3 meter di halaman rumahnya di Banjar Gelogor, Ubud. Karya yang dikerjakan selama sembilan bulan ini terbuat dari batu padas hasil kumpulan puing bangunan yang ia himpun selama lima tahun terakhir.
“Saya kumpulkan batu-batu yang tak terpakai dan saya tata ulang agar bernilai kembali,” ungkapnya.
Relief batu padas tersebut memuat simbol-simbol kehidupan, relasi manusia dengan alam, serta harmoni semesta, falsafah yang menjadi inti kehidupan masyarakat Bali. Baginya, halaman rumah bukan hanya ruang fisik, tetapi juga ruang spiritual yang menghubungkan dirinya dengan leluhur.
“Saya ingin halaman ini menjadi ruang belajar dan bertumbuh, terutama bagi anak-anak muda yang tertarik pada seni,” katanya.
Melalui perjalanan dari puing hingga pameran di ibu kota, Bratayasa menunjukkan bagaimana sesuatu yang lama dan terlupakan bisa dihidupkan kembali dengan makna baru. “Ini bukan soal membuat karya besar, tapi bagaimana memberi napas baru pada yang lama. Batu-batu ini dulu tidak dianggap, kini mereka bicara lagi lewat ukiran,” tuturnya. (dar,yan)








