
GIANYAR – Ni Made Libur dengan mata berkaca-kaca berdiri memandangi hamparan sawahnya di Subak Patas, Desa Kenderan.
Di atas tanah yang biasanya memberinya harapan dan penghidupan, kini hanya tersisa batang padi yang rebah tak berdaya akibat serangan hama tikus. Tak sebutir pun beras berhasil dibawanya pulang.
“Saya tidak tahu dari mana datangnya tikus-tikus itu. Tapi ukurannya besar-besar sekali. Ketika terdengar suara ‘ciiittt’, mereka langsung datang bergerombol menyerbu. Saya melihatnya pun sampai merinding,” tuturnya dengan suara bergetar, Senin (5/5/2025).
Padahal, Made menaruh harapan besar pada musim tanam kali ini. Saat pemupukan pertama, padinya tumbuh subur dan lebat. Batang-batangnya berdiri kokoh dan menjanjikan hasil panen yang memuaskan.
“Waktu itu saking lebatnya, saya sampai harus berjalan di pinggir pematang, karena tak bisa masuk ke tengah,” kenangnya.
Namun, harapan itu kandas seketika. Memasuki masa pemupukan kedua, daun padi mulai menguning. Beberapa hari kemudian, ketika ia kembali ke sawah, pemandangan memilukan menyambutnya, padi-padi roboh, porak-poranda diserang tikus.
Luas sawah miliknya sekitar 50 are. Jika kondisi normal, ia bisa membawa pulang hasil yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari bahkan lebih. Tapi kali ini, tidak ada yang bisa diselamatkan.
“Bahkan untuk saya bawa pulang dan dijadikan persembahan (dewa) pun tidak ada yang bisa dipetik,” ucapnya lirih.
Cerita Made Libur bukan satu-satunya. Serangan hama tikus telah meluas ke berbagai lahan pertanian di Gianyar, memukul keras para petani kecil yang menggantungkan hidup pada tanah dan musim di tengah keterbatasan bantuan dan stok obat hama. (jay)








