
KUTSEL – Pembukaan lahan serangkaian pembangunan Jalan Lingkar Barat (JLB), bagian dari jaringan Jalan Lingkar Selatan (JLS), telah mulai dilakukan. Demikian halnya seperti terlihat di seberang Jalan Batu Lesung, akses Pucak Karang Boma, Pecatu, belum lama ini.
Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta mengatakan, jalur ini nantinya akan menghubungkan Jalan Uluwatu dan Labuan Sait. Nantinya, akses ini diharapkan mampu menjadi alternatif dan membantu mengurai kepadatan lalu lintas di wilayah Pecatu. “Tapi jangan nanti baru ada yang baru, yang lama ditinggalkan,” singkatnya.
Sementara terpisah, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menyebut pembangunan JLS pada umumnya merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung dalam mendorong carrying capacity. Karena dalam hal pengembangan pariwisata di Kabupaten Badung saat ini, diyakini haruslah berfokus pada infrastruktur.
“Ini juga seiring dengan isu-isu yang sedang kencang dan menjadi fenomena kita sekarang di Badung ini. Dimana banyak wisatawan asing dan kita semua juga merasakan, bahwa terjadi suatu kemacetan. Dan kalau ini tidak segera kita atensi, atau tidak menjadikan fokus yang lebih serius oleh eksekutif maupun legislatif, tentu akan berbahaya buat pariwisata kita ke depan,” ucapnya.
Berkenaan dengan itu, maka di tahun 2026 ini Pemkab Badung bergerak melakukan pembebasan lahan. Bahkan konstruksi telah mulai dilakukan secara bertahap sampai tahun 2027. “Dengan harapan, sampai 2027 Jalan Lingkar Barat dari Jimbaran ke Uluwatu, dan dari Udayana ini juga akan selesai, dengan panjangnya sekitar 9 kilometer lebih,” ungkapnya.
Oleh terbangunnya semua akses jalan yang direncanakan itu, Land Value Capture (LVC) sebagaimana arahan Pemerintah Pusat, diharapkan dapat terwujud di wilayah Kabupaten Badung. “Ekonomi akan tumbuh, otomatis PDRB (Produk Domestik Regional Bruto pasti akan tumbuh juga. Ini tentu akan berdampak pada kesejahteraan buat kita semua, masyarakat Badung,” ucapnya.
Yang terpenting dalam hal itu, sambung Adi Arnawa, yakni meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Badung. Karena seperti diketahui, PAD Badung memiliki dampak sangat luas, bukan hanya untuk Badung saja, tetapi juga untuk Bali.
“Nanti setelah Jalan Lingkar Barat selesai, saya sudah perintahkan Kadishub (Kepala Dinas Perhubungan) untuk segera merancang rekayasa lalu lintas. Karena bukan hanya Jalan Lingkar Barat saja, malahan sekarang di Pecatu juga, yakni di Baler Setra sudah dibuatkan jalan tembus menuju Melasti. Jadi banyak alternatif yang kita bisa siapkan untuk menuju akses ke Uluwatu ini. Kebetulan Uluwatu ini kan salah satu destinasi primadona dengan atraksi Kecaknya, yang banyak juga memberikan kontribusi pendapatan kepada Badung,” ucapnya.
Berkenaan dengan semua itu, Bupati Adi Arnawa meyakini setidaknya pada tahun 2028 nanti, keluhan soal kemacetan di Jalan Uluwatu sudah bisa diatasi. Apalagi pihaknya juga berencana melengkapi keberadaannya nanti dengan moda transportasi publik yang bergerak secara shuttle.
“Di samping akan melakukan rekayasa lalu lintas, saya juga pelan-pelan akan mendorong moda transportasi publik. Jadi pada jalan yang kita siapkan ini kemungkinan akan kita siapkan juga jalur khusus untuk transportasi publik. Rencana kita akan siapkan transportasi publik seperti mobil listrik, sehingga ada akses semacam shuttle dengan kapasitas tertentu, dan tentu kita akan ada kajian. Jadi nanti akan ada pilihan. Tidak semua orang menuju akses Uluwatu itu dengan mobil pribadi, tetapi moda transportasi publik juga ada. Karena hanya dengan membangun jalan, juga tidak cukup tanpa diimbangi dengan kita membangun transportasi publik,” pungkasnya. (adi)








