
DENPASAR – Trend positif perekonomian Bali pada Triwulan IV tahun 2023 yang tumbuh 5,86 persen dan inflasi terjaga sebesar 2,92 persen, menjadi modal optimisme perkembangan ekonomi Bali di tahun 2024.
Namun, ekonomi Bali akan menghadapi tantangan yang tidak mudah, tidak saja pengaruh ekonomi domestik melainkan ekonomi global. Maka diperlukan kerja keras dan kolaborasi berbagai pihak agar ekonomi Bali benar-benar kuat.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja dalam acara ‘Ngraos Sareng Media’ Perkembangan Ekonomi Bali Terkini dan Program Serambi Rupiah, di Taman Dedari Ubud, Senin (18/3/2024).
Erwin mengungkapkan perkembangan ekonomi Bali 2024 diperkirakan tumbuh positif. Pertumbuhan ekonomi Bali 2024 ditargetkan tumbuh 5 hingga 5,6 persen. “Target pertumbuhan ekonomi Bali selain diperkuat dorongan investasi khususnya industri pariwisata juga beberapa sektor lain yang menopang ekonomi Bali, yakni sektor pertanian, perikanan, transportasi, sektor ini memiliki daya ungkit yang positif , dan kita bisa targetkan pertumbuhan ekonomi Bali 2024 tumbuh 5 hingga 5,8 persen,” kata Erwin.
Sementara itu Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali GA Diah Utari, mengungkapkan pertumbuhan ekonomi tumbuh 5.86 persen di triwulan IV tahun 2023, dimana dipicu dari membaiknya sektor pariwisata, sektor transportasi, dan perdagangan yang mencatat pertumbuhan positif.
Investasi 2023 tumbuh baik hingga 6,48 persen baik penanaman modal asing atau PMA yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun capaian ini belum pulih sepenuhnya seperti kondisi sebelum pandemi. Kemudian penanaman modal domestik yang masuk ke Bali 97 persen sebagian masuk sektor tersier, yaitu bidang jasa hotel akomodasi pariwisata.
“Sektor pertanian, perikanan mempunyai potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Bali. Sektor sekunder khususnya industri manufaktur berskala kecil menengah juga sangat baik, kami melihat survei dari optimisme masyarakat , survei konsumen semuanya berada di zona ekspansi, masyarakat masih menunjukan optimis di 2024,” ujar Diah Utari.
Ia menyakinkan prakiraan ekonomi Bali 2024 di kisaran 5- 5,8 persen, selain ditopang pemulihan di sektor pariwisata, sektor lainya juga berperan besar untuk mendorong tumbuhnya ekonomi Bali, yakni sektor pertanian dimana masuknya musim panen padi, termasuk perikanan, kemudian musim El Nino yang diprediksi segera menuju netral pada periode Mei, Juni, Juli 2024 serta tren positifnya sistem digitalisasi melalui pembayaran non tunai.
“Proyek multiyears juga kita harapkan menjadi pemantik bagi perekonomian Bali, seperti kelanjutan pembangunan pusat kebudayaan Bali (PKB), rencana pembangunan jalan tol Gilimanuk -Mengwi dan proyek lainnya yang memiliki daya ungkit perekonomian ke depan juga bisa berkontribusi terhadap ekonomi Bali,” ungkapnya.
Khusus terkait menjaga stabilitas inflasi, Diah Utari menambahkan peran perumda di tingkat kabupaten/kota di Bali memiliki peranan mendorong dan menjaga stabilitas harga komoditi dengan tata kelola yang teratur.
“Perumda berperan menjembatani arus penjualan antara produksi di tingkat petani ke konsumen, seperti beberapa komoditas pangan mulai beras, tomat, cabe dan sebagainya dengan tata kelola harga yang bisa dijaga,” tandasnya.
Menurutnya, manajemen pasokan pangan di masing-masing daerah diharapkan selalu terjamin. Karena penyumbang inflasi dari beberapa komoditas masih seperti harga beras, tomat dan cabe merah, ras dan daging.
“Berbagai upaya untuk menjaga harga-harga barang dilakukan selain operasi pasar , meningkatkan ekosistem perdagangan yang melibatkan perumda masuk dalam Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) . Ada dua contoh perumda yang berhubungan dengan petani, Perumda di Kabupaten Buleleng dan Perumda Badung. Bila perumda menghandle dari pembibitan, dukungan modal, hingga membeli produk pertanian ini akan membuat terjaganya regulasi harga,” pungkasnya. (sur,dha)








