
TABANAN – Sungguh mengejutkan, inflasi di Tabanan pada bulan Februari mencapai 0,68 persen dan menjadi tertinggi di Bali. Hal ini dipicu karena kenaikan harga beras yang signifikan. Hal ini menjadi atensi serius Pemkab Tabanan. Salah satu program direncanakan yakni menggelar operasi pasar beras di sepuluh kecamatan.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Tabanan AA Dalem Tresna Ngurah ketika dikonfirmasi mengungkapkan, sesuai arahan pimpinan (Bupati), Pihaknya berupaya keras untuk mengendalikan laju inflasi yang terjadi di Tabanan. Berbagai langkah coba ditempuh untuk hal tersebut. Salah satu akan menggelar operasi pasar beras bekerja sama dengan Bulog.
“Sesuai arahan pimpinan, kami akan menggelar operasi pasar khususnya beras di sepuluh kecamatan bekerja sama dengan Bulog,” ungkap Gung Dalem, Kamis (14/3/2024).
Sehubungan dengan hal tersebut, pihaknya sudah melakukan rapat koordinasi dengan para camat di Tabanan membahas rencana operasi pasar tersebut. Namun demikian, pihaknya belum bisa memastikan waktu dan lokasi pasar murah khusus untuk beras tersebut.
“Kami sudah melakukan rapat koordinasi dengan para camat se-Tabanan dan kami juga bersurat ke Bulog untuk rencana tersebut,” ucapnya.
Pihaknya berharap Bulog dapat membantu. Namun pihaknya belum bisa memastikan berapa yang akan digelontorkan, pasalnya, kondisi serupa juga terjadi di kabupaten lainnya.
“Dengan sudah bersurat Bulog bisa mempelajari, soal besaran beras yang akan digelontorkan, kami belum bisa pastikan, semuanya tergantung Bulog,” sebutnya.
Ditanya kasus kenaikan inflasi di Tabanan yang dipicu kenaikan harga beras. Padahal Tabanan selalu dikatakan surplus, Mantan Kepala Bakeuda ini mengakui, kenaikan inflasi tersebut salah satunya dipicu kenaikan harga beras .
Hal ini kata dia terjadi karena beberapa faktor seperti Tabanan saat ini belum memasuki musim panen sehingga pasokan gabah dari petani minim. Selain itu dengan menumpuknya hari raya sehingga kebutuhan beras semakin meningkat yang memicu kenaikan harga. Hal inilah yang memicu kenaikan inflasi di Tabanan mencapai angka 0,68 persen di Bulan Februari.
“Mudah-mudahan dengan operasi pasar nanti harga beras bisa turun sehingga berimbas pada terkendalinya inflasi di Tabanan,” harapnya.
Tingginya inflasi Tabanan juga menjadi atensi Pemkab Tabanan. Bertempat di Ruang Rapat kantor Bupati Tabanan, Sekretaris Daerah Kabupaten Tabanan, I Gede Susila, buka pelaksanaan rapat yang juga turut dihadiri oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Kepala Badan Pusat Statistik Tabanan, beserta anggota Tim Inflasi Daerah Kabupaten Tabanan.
Inflasi pangan yang meningkat di bulan Februari 2024 ini tidak hanya menjadi isu lokal namun juga menjadi isu nasional bahkan global. Berdasarkan Berita resmi statistik no 15/03/Th.XXVII, 1 Maret 2024, perkembangan indeks harga konsumen Februari 2024 menunjukkan kenaikan inflasi bulanan Indonesia mencapai 0,37% yang dipicu oleh kenaikan harga pangan dengan lima komoditas penyumbang utama yakni beras, cabai merah, telur ayam ras, daging ayam ras dan juga minyak goreng.
Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Tabanan, Komang Bagus Pawastra,SE,MT.,MA, menyampaikan bahwa Kabupaten Tabanan mengalami inflasi yang cukup tinggi di Bulan Februari 2024 yakni sebesar 0,68 persen dan sebesar 3,78% secara year to year dengan komoditas dominan yang memberikan andil/sumbangan inflasi adalah beras.
“Sejak awal tahun 2023 harga beras terus meningkat. Terlebih cuaca yang cukup extrim akibat el nino di tahun 2023, berdampak pada kurang optimalnya produksi yang ada. Hal ini berakibat terbatasnya pasokan pada awal 2024. Terbatasnya pasokan juga disebabkan oleh belum adanya panen. Panen diperkirakan baru akan mulai Maret hingga April nanti. Disisi lain permintaan cenderung meningkat dengan adanya hari raya berturut – turut mulai dari Imlek, Galungan, dan kuningan, Nyepi dan sebentar lagi Lebaran” Ujar Bagus Pawastra. (jon)








