DenpasarEkonomi

Terkendala Aplikasi, Eksportir di Gianyar Menurun

GIANYAR – Kegiatan ekspor di Kabupaten Gianyar masih belum pulih. Ini terlihat dari ekportir yang sebelum pandemi Covid-19 mencapai ratusan orang, kini tinggal puluhan orang.

Kabid Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Gianyar, Dewa Ayu Putra Budiati mengatakan, penurunan jumlah ekportir ini karena sejumlah faktor seperti perubahan aplikasi dari versi pertama ke versi kedua.

Menurutnya, perubahan aplikasi itu membuat para ekportir  enggan mengurusnya.

“Mereka menjadi enggan mengurus, padahal versinya menjadi lebih mudah,” ujar Dewa Ayu Putra Budiati, Senin (26/6/2023).

BACA JUGA:  Tekankan Pelayanan dengan Integritas, Sekda Denpasar Buka Sosialisasi Pencegahan Maladministrasi

Mensiasati hal tersebut, para ekportir memilih menumpang pada ekportir lain seperti Cargo.

“Mereka tinggal menerima hasil, tidak ingin ribet mengurusnya,” ujarnya. Perubahan aplikasi ini akibat dampak dari pandemi Covid-19.

Sementara, terkait barang yang menjadi komuditi ekspor di Gianyar, Budiati menyebut paling mendominasi masih handicraft berupa perak Celuk, kerajinan kayu, dan Jimbe.

“Perak Celuk masih lancar, namun tidak melakukan ekpor secara paratai besar. Namun rutin,” ujarnya.

BACA JUGA:  Jejak Setengah Abad Menjaga Jiwa Kebudayaan Bali lewat PKB

Terkait kendala para ekportir, Putra Budiati mengatajan lemotnya internet atau aplikasi yang digunakan. Sebab, satu aplikasi digunakan di seluruh Indonesia.

“Jadi, kendalanya agak lelet karena digunakan seluruh Indonesia.  Kalau yang lain terkait teknis pengerjaan atau bahan baku, itu ranah perajinnya,” terangnya.

Tujuan ekspor cenderung ke Amerika, Cina dan Eropa. Namun,   hanya memiliki kewenangan dalam administrasi Certifikat Of Original (COO). Sedangkan total barang yang diekspor tahun 2022 mencapai 25,660,149.63 dan hingga Juni 2023   menyentuh angka 2,724,366.36 (jay)

Back to top button