
DENPASAR – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Bali Trisno Nugroho, mengungkapkan bicara Pertumbuhan ekonomi Bali, saat ini cukup positif, hal ini didorong dengan pulihnya sektor utama Bali yaitu pariwisata.
Namun, sektor pertanian, justru harus menjadi perhatian serius semua pihak. Kalau mau masalah pangan aman, maka sektor pertanian dikelola dengan baik, salah satunya alokasi anggaran pemda ditingkatkan.
Hal tersebut terungkap dalam agenda Obrolan Santai BI bareng Media dengan mengangkat tema Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Bali 2023: Konsisten, inovasi dan sinergi, di Sanur, Kamis (16/2/2023).
Trisno menyebutkan, rendahnya anggaran yang dialokasikan pemerintah daerah (Pemda) di Bali khusus untuk membantu sektor pertanian agar tumbuh positif, menjadi prioritas yang harus diperhatikan oleh pemegang kebijakan.
Pasalnya, kondisi petani dengan daya saing dan produktivitas semakin berat, memang pemerintah wajib hadir dengan suntikan anggaran yang baik. Selain faktor cuaca, ketergantungan pasokan kebutuhan makanan datang dari luar Bali, turut menyumbang inflasi pada komponen volatile food seperti cabai, beras, bawang, telur dsb.
“Alokasi anggaran pertanian masih rendah di beberapa pemda di Bali . Karena dengan dukungan anggaran yang memadai, masyarakat petani mampu mengimbangi biaya operasional yang tinggi sehingga menjaga stabilitas harga pangan tetap terkendali. Untuk Tahun 2021, 2022, alokasi anggaran sektor pertanian khusus di 6 Kabupaten diluar Denpasar, Badung, Gianyar masih rendah, ini yang perlu didorong agar pemda menaikan alokasi yang lebih untuk pertanian,” kata Trisno.
Pihaknya menambahkan, anggaran pertanian dibutuhkan karena harga pangan di Bali fluktuatif. Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah sempitnya lahan, ongkos produksi yang tinggi tak sebanding dengan hasilnya. Ketersediaan pupuk, juga menjadi penentu ongkos operasional petani.
“Harga beras misalnya Harga Eceran Tertinggi ( HET ) di Bali khusus untuk beras belum ada kenaikan lima tahun terakhir, untuk harga beras medium masih di angka Rp 9.450 per kg, dan Harga beras premium sekitar Rp 12.800 per kg, apalagi di Bali musim panen hanya dua kali setahun, seharusnya ditingkatkan produktivitasnya menjadi tiga kali setahun,” ungkapnya.
Trisno mengusulkan, agar potensi daerah yang menjadi sentral pertanian, perkebunan tetap dipertahankan. “Kawasan beras misalnya ada di Tabanan, sebagai lumbung padi di Bali harus tetap dipertahankan, kalau semua alih fungsi tentu akan sulit Bali bicara pangan, karena selama ini potensi pertanian kita misal beras masih ketergantungan dari Banyuwangi, ayo lah kita beli beras Bali, di Tabanan ada, harganya tak mahal berasnya enak,“ tandasnya. (sur,dha)








