
KUTA – Penyanderaan terhadap seorang delegasi KTT G20 diangkat sebagai salah satu skenario dalam Latihan Penanganan Keadaan Darurat (PKD) ke-107 di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Kamis (29/9/2022). Pelakunya, adalah dua orang petugas Facility Care Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Dalam skenario bersangkutan, kejadian diawali adanya aksi demonstrasi di sekitar Gedung Wisti Sabha. Masa bergerak dari berbagai arah, menuntut penolakan terhadap penyelenggaraan KTT G20 di Bali.
Sebagai langkah antisipasi, pihak bandara mengerahkan Nose Tender ARFF menuju lokasi. Hal tersebut didukung pula TNI AU dan Polres Kawasan Bandara, untuk melakukan pembubaran masa. TNI AU mengirimkan pasukan anti huru-hara, sedangkan Polres Kawasan Bandara mengirimkan pasukan dalmas.
Namun ternyata, demonstrasi tersebut tidak ubahnya sebagai sebuah kamuflase belaka. Yang semata-mata dilakukan untuk mengalihkan konsentrasi dalam pengamanan KTT G20.
Karena simultan dengan aksi demonstrasi, ternyata ada peristiwa penyanderaan terhadap seorang delegasi KTT G20 di Lobby Terminal Kedatangan Internasional. Pelakunya adalah dua orang petugas taman bandara, atas iming-iming imbalan yang besar. Tidak kosongan, dua pelaku tersebut diskenariokan lengkap berbekalkan senjata api dan informasi kedatangan target.
Oleh situasi yang masuk kategori Darurat, maka komando diserahkan kepada Komandan Pangkalan TNI AU I Gusti Ngurah Rai. Walhasil pelaku dapat dilumpuhkan Tim Penyerbu Bersenjata (Wanteror), di tengah proses negosiasi oleh tenaga ahli.
Untuk diketahui, Security Exercise tersebut hanya salah satu dari tiga skenario yang diangkat dalam latihan PKD ke-107 Bandara I Gusti Ngurah Rai. Dua lainnya, berupa Aircraft Accident Exercise dan Disaster Exercise.
Dalam Aircraft Accident, disimulasikan adanya pesawat Barong Air 777-300ER rute Singapura-Bali yang mengalami gagal landing dan crash di sisi selatan runway. Pesawat tersebut total mengangkut 369 penumpang dengan 19 awak kabin, yang salah satunya terindikasi terjangkit penyakit cacar monyet atau monkeypox.
Dalam skenario tersebut, kecelakaan pesawat mengakibatkan 87 orang luka ringan, 58 luka berat, 97 meninggal dunia, dan 146 orang selamat. Akibat adanya kejadian tersebut, digambarkan Bandara I Gusti Ngurah Rai terpaksa ditutup untuk sementara.
Sementara dalam Disaster Exercise, mensimulasikan penanganan dan mitigasi bencana alam gempa bumi berkekuatan 8,5 SR berkedalaman 15 km. Pusat gempanya berada di arah barat daya Pulau Bali, dan dinilai berpotensi menimbulkan tsunami.
Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi menegaskan, latihan PKD menjadi suatu hal yang penting untuk dilakukan. Bahkan seluruh potensi yang ada di bandara dan sekitarnya, harus dikerahkan untuk menanggulangi keadaan darurat.
“Untuk itu maka perlu dilatih secara periodik sebagai upaya antisipasi yang akan membuat kita selalu dalam keadaan siap. Baik itu dari sisi sumber daya manusia, fasilitas, ataupun dokumen yang dimiliki bandara,” ucapnya.
Diakui dia, latihan tersebut sekaligus untuk mematangkan kesiapan dalam menyambut penyelenggaraan KTT G20 pada November 2022 nanti. Karena disadari, kesiapan bukan hanya dari sisi fasilitas dan pelayanan, melainkan juga safety dan security.
“Ancaman dapat terjadi kapan dan dimana saja. Jika lengah sedikit saja, maka akan sangat mempengaruhi operasional bandara,” tegasnya.
Lebih lanjut dia juga menyampaikan bahwa fungsi koordinasi, komunikasi, komando, dan sinkronisasi antar unit dan instansi komunitas bandara, adalah hal yang benar-benar diuji melalui latihan PKD tersebut. Selain personel, itu juga menguji dokumen Airport Emergency Plan (AEP), Airport Security Program (ASP), Airport Disaster Management Plan (ADMP), Get Airport Ready Disaster (GARD), serta Standar Operating Procedure (SOP) di bandara.
“Simulasi dari ketiga latihan ini kami rancang sedemikian rupa sehingga mendekati kondisi nyata. Hal tersebut ditujukan untuk menguji kemampuan dan kesiapsiagaan personel, serta untuk menguji prosedur yang berlaku,” imbuhnya sembari memastikan, pelaksanaan latihan PKD 107, tidak mengganggu operasional penerbangan dan layanan diberikan. (adi/jon)








