
KUTA – Lalulintas di jalur pariwisata, tepatnya dari titik Patung Dewa Ruci menuju arah Sanur, terpantau padat merayap dalam dua hari terakhir ini. Cek kali cek, kondisi tersebut merupakan imbas dari adanya aktivitas proyek pengaspalan terhadap sebagian badan jalan.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.2 Satker Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah III Provinsi Bali Muhammad Solthon meminta permakluman segenap masyarakat atas kekroditan yang ditimbulkan. Kata dia, hal tersebut semata-mata untuk mengejar progres dari proyek yang dilaksanakan dalam rangka menyambut Presidensi G20 itu.
Dari Patung Dewa Ruci, pengaspalan katanya akan dilakukan hingga menuju ke lokasi konservasi penyu di Serangan. Dengan target perampungan yakni pada minggu pertama bulan Agustus nanti.
“Kami ditarget antara akhir Juli hingga Agustus, pengaspalan khusus untuk G20 sudah selesai semua. Karena setelah Agustus nanti, itu ada banyak delegasi yang mondar-mandir mengikuti rapat. Makanya kita kejar progresnya,” ungkapnya.
Atas alasan target itu pula, maka pengaspalan dilaksanakan mulai dari siang hari. Yakni dari sekita pukul 14.00 Wita, hingga 22.00 Wita.
Sementara sekilas untuk diketahui, kekroditan pada Senin (4/7/2022) terjadi pada sekitar satu kilometer Jalan By Pass I Gusti Ngurah (arah Patung Dewa Ruci menuju Sanur). Itupun mengular ke Jalan Sunset Road hingga Jalan Griya Anyar.
Tak ayal karenanya, ada banyak pengendara melintas yang mengeluhkan kondisi tersebut. Bahkan tidak sedikit ngedumel, meminta pihak proyek untuk lebih memperhatikan waktu pelaksanaannya. Misalnya pada malam hari, saat lalulintas terbilang lebih lengang.
Tidak hanya itu, ada warga yang enggan disebutkan namanya bahkan mempertanyakan pengerjaan proyek bersangkutan. Karena secara kasat mata, badan jalan pada jalur tersebut diketahui masih dalam kondisi baik.
“Kenapa harus diaspal? Padahal setahu saya jalan di sana baik-baik saja. Justru ada banyak jalan lain yang sesungguhnya lebih membutuhkan. Apakah karena G20? Apakah delegasi G20 datang kesini untuk lihat kita punya jalan yang aspalnya baru?” sentil pria yang kesehariannya sebagai sopir pariwisata itu. (adi/jon)








