
DENPASAR – Ratusan cakepan (buah) naskah lontar di Kota Denpasar berhasil diselamatkan melalui perawatan atau konservasi yang dilakukan Tim Penyuluh Bahasa Bali.
Berdasarkan data Tim Penyuluh Bahasa Bali sejak 2016-2022, tercatat ada 791 cakepan naskah lontar dengan berbagai judul milik kelompok warga di Kota Denpasar telah dikonservasi.
Serangkaian Bulan Bahasa Bali IV, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali melibatkan Tim Penyuluh Bahasa Bali Kota Denpasar kembali menggelar festival konservasi lontar milik warga di Geria Dauh Buruan, Sanur Kaja, Minggu (6/2/2022).
70 cakepan lontar milik Geria Dauh Buruan yang dirawat itu terdapat lontar kekawin, usadha, arjuna wiwaha, dan beberapa lontar usadha. Pembersihannya menggunakan alkohol, minyak sereh serta buah kemiri.
Kondisi lontar cukup terawat di Geria Dauh Buruan tersebut terutama lontar -lontar kekawin karena tak lepas dari lingkup geria sering dibaca mengiringi pelaksanaan upacara yadnya dan sebagainya.
“ Lontar milik Geria Dauh Buruan ini yang dirawat sebagian besar berupa naskah lontar kekawin, usadha, jumlahnya sekitar 70 cakepan,” ujar Wayan Yogik Aditya Urdhahana selaku Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kota Denpasar.
Tim penyuluh terdiri dari 15 orang bertugas membersihkan debu, kemudian diolesi minyak sereh yang dicampur dengan alkohol, apabila huruf atau aksara kurang jelas, maka diolesi cairan kemiri agar lebih hitam.
Yogi menjelaskan, selama konservasi lontar tim berhasil mendata sebanyak 791 cakepan naskah lontar yang tersebar di berbagai lokasi di Kota Denpasar. Keberadaan lontar sebagian besar di wilayah Sanur, Denpasar selatan dan Denpasar Timur dan Utara.
“ Terbanyak koleksi lontar berada di wilayah Sanur, berbagai lontar milik warga atau kelompok, seperti dadya, geria, balian sejatinya banyak yang mengantre untuk dilakukan perawatan, hanya saja kendala yang kita hadapi adalah ketersediaan bahan obat yang diguanakan, karena cukup mahal harganya, terkadang bagi masyarakat kebanyakan belum siap,” ucap pria asal Sidakarya itu.
Sementara itu salah satu pemilik lontar yang juga penglingsir di Geria Dauh Buruan Ida Bagus Putu Dirga menuturkan perawatan ini sangat penting. Terlebih, sekarang ini banyak lontar – lontar dibaca saja jarang, apalagi dirawat.
“Lontar -lontar ini harus dirawat, sangat penting bagi ilmu pengatahuan, bagi generasi penerus,” ucap IB Dirga.
Ia menjelaskan, koleksi naskah lontar di gerianya cukup banyak, warisan naskah ini dari kakek buyutnya tersimpan rapi hingga sekarang “ Ada beberapa lontar yang hilang, karena dipinjam, namun tak kembali lagi, yang parah saya mendengar ada beberapa lontar diperjual belikan, ini patut menjadi perhatian semua pihak, “ tuturnya.
Pihaknya mengaku untuk regenerasi membaca lointar di geria berjalan baik. “ Untuk anak-anak penerus di geria ini, tetap melestarikan dan baru tahap membaca saja, regenerasi berjalan baik,“ ungkapnya.
Dirga menambahkan, koleksi naskah yang tersimpan di geria diantaranya ada kekawin, tatwa, tata titi pertanian, usadha, hingga usadha putih.
Bulan Bahasa Bali IV berlangsung selama satu bulan (1-28) Februari 2022. Bulan Bahasa Bali Tahun 2022 mengusung tema “Danu Kerthi: Gitaning Toya Ening”, Air Sumber Pengetahuan, bermakna Bulan Bahasa Bali sebagai representasi pengetahuan yang mengalir tiada henti memancarkan kebajikan, kesejahteraan, dan kemuliaan dunia.
Untuk kegiatan festival konservasi lontar serangkaian Bulan Bahasa Bali IV, digelar di seluruh kabupaten/kota se-Bali.
”Masing-masing kota /kabupaten dihelat perawatan lontar yang digerakan oleh para penyuluh bahasa Bali, kegiatan ini bertujuan untuk menjaga warisan leluhur, agar naskah-naskah lontar tidak punah,” kata A.A Ngurah Bagawinata, Kabid Sejarah dan Dokumentasi Disbud Bali.(sur)








