Kisruh Pemilihan Bendesa Adat Banjar, MDA Panggil Prajuru, Panitia hingga Pengurus Dadia

0
265
MDA Provinsi Bali memanggil Prajuru Desa Adat Banjar, Kertha Desa, panitia pemilihan Bendesa Adat, serta pengurus dadia Griya Gede Banjar, Buleleng.

DENPASAR – Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali memanggil Prajuru Desa Adat Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Rabu (12/1). Selain itu, Kertha Desa, panitia pemilihan Bendesa Adat, serta pengurus dadia Griya Gede Banjar ikut dipanggil.

Hal tersebut terkait adanya kisruh pemilihan bendesa adat setempat yang perlu diminta keterangan dan klarifikasi oleh pihak yang keberatan maupun panitia pemilihan.

Pertemuan yang dilakukan secara tertutup di Gedung Lila Graha Kantor MDA Provinsi Bali tersebut dihadiri oleh masing-masing tiga perwakilan dari Prajuru, Kertha Desa, panitia Pemilihan Bendesa dan Pengurus Dadia Griya Gede Banjar, Buleleng. Selaku penengah dari MDA Bali dihadiri oleh Petajuh Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia MDA Bali I Made Wena.

Ketua Dadia Griya Gede Banjar Ida Bagus Ayodya mengatakan, hasil yang disarankan MDA Bali untuk sama-sama introspeksi diri.

“Sama-sama diminta untuk introspeksi diri. Secara umum sama-sama punya kekurangan, begitu juga Kertha Desa tidak menangani pengaduan, di pihak panitia pemilihan bendesa tidak menyampaikan penjelasan,” paparnya.

Terjadinya kisruh pemilihan Bendesa Adat Banjar tersebut diduga kurangnya ada koordinasi. Sebab dalam prosesnya tidak ditunjukan tata cara pemilihan atau tata cara ngadegan bendesa adat. Melainkan langsung dengan mengesahkan program kerja bendesa adat. Terlebih dalam penyerahan nama calon bendesa telah melampaui batas  yang ditentukan.

Ida Bagus Ayodya pun menambahkan, kisruh pemilihan bendesa adat tersebut diminta oleh MDA Bali agar menggunakan jalan tengah. Sehingga sesegera mungkin masyarakat maupun anggota Dadia Griya Gede Banjar diminta untuk melakukan rapat membahas kekisruhan tersebut. Bahkan bendesa yang lama diminta tidak menggunakan jabtan bendesa dalam melakukan aktifitas, sampai persoalan ini semuanya selesai.

“Agar di desa Adat Banjar melakukan pararem dulu, kami rencana lakukan tanggal 14 ini. Kalau tidak bisa  juga kedua pihak yang bersengketa ini menyelesaikan, bisa naik sampai pengadilan, tapi diusahakan jangan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, anggotanya di Dadia Griya Gede berjumlah 103 kepala keluarga, belum termasuk anggota tempekan.

“Harus parum dulu. Ini untuk bersama-sama bangun desa,” tandasnya.

Sementara, Petajuh Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia MDA Bali, I Made Wena, pasca menerima pengurus Desa Adat Banjar langsung menerima krama yang lain. Sehingga tidak dapat memberikan keterangan. Begitu juga saat dikonfirmasi tidak ada jawaban sampai berita ini dibuat. (arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 × three =