
DENPASAR – Budayawan Prof. I Wayan Dibia merasa bangga dengan ditetapkannya alat musik tradisional khas Indonesia, gamelan, sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO.
Prof. I Wayan Dibia mengatakan, Bali memiliki sekitar 33 jenis gamelan atau barungan ( esemble) yang tergolong tradisi tersebar di pelosok desa.
“Kita patut berbangga gamelan menjadi milik nusantara. Ini patut diapresiasi, sama dengan kesenian lainnya seperti joged, keris, wayang dan sebagainya,” ujar mantan Rektor ISI Denpasar ini.
Secara formal gamelan diakui dunia. Hanya, kata Prof. Dibia, muncul tantangan ke depan bagaimana semua pihak berupaya menjaga dan melestarikanya.
“Masyarakat dan pemerintah diharapkan berupaya menjaga agar tetap lestari. Yang tradisi tetap terjaga, yang terbaru terus berkembang tanpa menghilangkan ketradisianya,” harapnya.
Ia menyebutkan, jenis gamelan di Bali cukup beragam. Jika berbicara kekebyaran identik dengan Bali Utara. Namun, secara kuantitas, keberadaan gamelan cukup banyak ada di Bali Selatan. Jenis gamelan tradisi mulai gong kebyar, gong gede, jegog, angklung, semarandana, wayang, jegog, termasuk bumbang milik Ida Granoka tercatat tradisi.
” Kalau yang baru, muncul gamelan anyar karya kekinian. Misalnya, gamelan barungan pesel, musik digital, ada enam jenis yang mulai diperkenalkan oleh para seniman muda kita, tanpa meninggalkan unsur bebalinya,” sebutnya.
Sementara, Kadisbud Proivinsi Bali Prof.Dr.I Gede Arya Sugiartha juga menyambut gembira penetapan gamelan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh dunia.
“Ini adalah warisan milik kita. Ji Jawa dan Bali, gamelan tidak sekadar barang kesenian, tapi memiliki sumber nilai,” ungkanya.
Gamelan hasil warisan tak benda dari Indonesia sangat tepat.
“Kalau ada gamelan di Malaysia, itu produk yang datangnya dari Jawa juga. Gamelan adalah kebudayaan asli Indonesia dan kita sangat senang untuk diwariskan di masa mendatang. Kewajiban kita menjaga, melestarikan dan mengembangkan. Ada yang baru, produk gamelan karya – karya inovasi, kontemporer biarkan berkembang dengan ekosistemnya dan hasilnya juga di masa mendatang akan menjadi produk tradisi pula,” kata pejabat asal Pujungan, Tabanan ini.
Mantan Rektor ISI Denpasar dua periode ini menambahkan, gamelan Bali baik berupa gong kebyar, angklung, jegog di berbagai negara sudah banyak dan sangat disenangi. (sur)








