Konser di Era New Normal, Bali Revival 2020 Dikonsep Nonton dari Mobil

0
156
KONSER : Panitia Bali Revival 2020 simulasi kendaraan yang diagendakan dalam konser new normal di kawasan Parkir Monkey Forest, Ubud. (Foto:Made Adnyana).

DENPASAR – Cara menonton festival atau konser di era pandemi Covid-19  benar -benar berubah. Dunia seni panggung pun ‘dipaksa’ dengan kebiasaan baru seperti sosial distancing. Kondisi ini tentunya menjadi tantangan bagi para pekerja kreatif seperti seniman dan musisi dalam menggelar konser yang biasanya melibatkan massa.

Ide menggelar konser di era new normal datang dari Focus Production. Sebuah pertunjukan bertajuk Bali Revival 2020 – New Era Festival yakni menikmati konser secara live hanya dari sekitar mobil miliknya dan Ubud menjadi pilihan ideal pelaksanaan konser yang pertama digelar di Pulau Dewata itu.

Pimpinan Focus Production Jos Darmawan  mengatakan,  konser yang akan digelar selama tiga hari, 15- 17 Agustus 2020 mendatang digeber di rooftop parkir Monkey Forest, Desa Padangtegal, Ubud, Gianyar.

Sesuai namanya, acara konser musik dengan tata panggung, tata suara dan perlengkapan layaknya konser musik outdoor. Namun, kali ini digelar dengan gaya baru. Pelaksanaan mengacu kepada pelaksanaan protokol kesehatan mulai dari penggunaan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan transaksi non-tunai. “Ini adalah semangat kita bersama, bahwa kita tetap beraktivitas dan berkreativitas meski dengan keadaan berbeda. Tujuan utamanya adalah untuk membangkitkan semangat masyarakat Bali khususnya pelaku seni untuk tetap berkaya dan bekreativitas dalam rangka pemulihan perekonomian di Bali. Kami optimis untuk segera bangkit dengan kebiasaan dan tata cara yang baru,” ujar Jos Darmawan saat jumpa pers di Kebon Vintage Cars Bali, kawasan Biaung, Denpasar, akhir pekan lalu.

Di atas panggung Bali Revival 2020 akan menampilan sejumlah penyanyi dan grup musik Bali dari berbagai aliran atau jenis musik. Di antaranya Lolot, Navicula, Di Ubud, Balawan, The Hydrant, Dialog Dini Hari, Jun Bintang, Dek Ulik, dan Manja grup. Mereka akan tampil bergiliran tiap harinya. Konser hanya digelar sore hingga menjelang malam mulai pukul 16.30-18.30 Wita dengan menerapkan protokol secara ketat.

Teknisnya nanti, pergelaran dikonsep bergaya drive-in di mana penonton menyaksikan pertunjukan dengan membawa masuk kendaraan (mobil) ke area pertunjukan. Penonton yang membawa mobil akan diberikan space mobil 4×5 meter, sehingga penonton akan menonton konser dari luas 4×5 meter tersebut. Satu mobil dibatasi untuk mencegah kerumunan. Sementara pembelian tiket dilakukan secara online. Harga tiket diberlakukan sebesar Rp 400 ribu. Dalam satu mobil bisa diisi maksimal 4 orang. Mengingat dalam kondisi social distancing, mobil penonton hanya dibatasi sebanyak 70 mobil saja. “Kegiatan ini diharapkan dapat memberi hiburan kepada masyarakat Bali dan memberi rasa optimis yang tinggi dalam rangka pemulihan perekonomian. Dengan harapan pula, pertunjukan ini bisa menjadi percontohan dari Bali, bahwa kita tetap bisa beraktivitas di tengah pandemi covid-19,” katanya.

Sementara itu, Bendesa Adat Padangtegal Ubud Made Gandra mengatakan, fasilitas publik berupa central parkir Monkey Forest dibangun memang agar bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan umum. Kata Gandra, gedung parkir tersebut bisa menampung sekitar 500 mobil, termasuk lapangan parkir yang ada di luar gedung tersebut. “Saya yakin semua komponen mengharapkan Bali bisa segera bangkit. Mudah-mudahan kita segera bisa memulai kehidupan seperti biasa lagi. Tentunya dalam kegiatan, kita semua harus tetap waspada dan terapkan protokol yang ketat, sehingga tidak terjadi hal yang kita tidak inginkan setelah pertunjukan ini selesai,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu perwakilan musisi Bali Jun Bintang, mengapresiasi adanya inisiatif membuat event konser dengan konsep baru. Meskipun akan ada beberapa aturan main yang harus diikuti bersama, karena tidak semua orang bisa datang. Namun demikian, dia berharap ini menjadi satu konsep baru membuat event konser di tengah pandemi. Jun mengakui, selama hampir enam bulan pandemi covid-19, para musisi dan seniman sama sekali tidak ada pemasukan ataupun bisa menggelar pertunjukan secara live. “Saya secara pribadi merasa terhormat bisa diikutkan memeriahkan acara ini. Kami para musisi dan seniman, memang benar-benar gak ada konser sama sekali. Kami berharap ini bisa menjadi awal kebangkitan musisi dan seniman Bali. Kalau ini berhasil dan berjalan dengan aman, tentu ini akan menjadi konser pertama di dunia yang dilakukan dari Bali,” ungkap pelatun tembang ‘Satya’ ini.(sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here