
BULELENG – Diguncang gempa magnitudo 7,4 yang berlokasi pada 8.09 LS, 114.87 BT, 24 km Barat Laut Buleleng dengan kedalaman 10 km, tak pelak membuat warga masyarakat di Desa Pengastulan Kecamatan Seririt panik.
Isu tsunami yang menyertai gempa akibat pergeseran subduksi lempeng, patahan flores atau Flores Thrust menambah kepanikan warga, sehingga banyak yang mengabaikan rambu-rambu, tanda arah yang dibuat untuk evakuasi.
Beruntung, dengan kecanggihan alat komunikasi serta koordinasi antar instansi seperti Pemerintah Daerah, BPBD Buleleng, Basarnas, TNI/Polri, Kecamatan, Desa dan Kelurahan, kepanikan warga mampu diredam sehingga tidak ada korban jiwa, sebagaimana pernah terjadi pada Gempa Seririt tanggal 14 Juli 1976 silam.
“Simulasi dengan skenario penanggulangan bencana gempa bumi dan tsunami bukan untuk menakut-nakuti, tapi lebih kepada upaya penguatan koordinasi BMKG dengan stakeholder kebencanaan daerah guna membangun sikap tanggap bencana warga masyarakat,” tandas Kepala Stasiun Geofisika Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BB-MKG) Wilayah III Denpasar, Arief Tyastama usai simulasi di Desa Pengastulan Kecamatan Seririt, Rabu (31/5/2023).
Arief didampingi Ketut Suardika selaku Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BB-MKG Wilayah III Denpasar menegaskan, SLGB dilengkapi simulasi melibatkan warga serta peserta yang telah dikukuhkan menjadi Forum dapat meningkatkan pemahaman tentang potensi terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami.
“Karena potensi itu ada disini, melihat trgedi gempa tahun 1976 akibat pergeseran Flores Back Arc Thrust Utara Bali, lempeng flores atau Flores Trust dengan korban cukup banyak. Sesuai penelitian ahli, gempa yang mungkin terjadi maksimal magnitudo 7,4 tetapi cukup membangkitkan tsunami dan tsunaminya sangat singkat karena jarak sumber gempa dengan daratan yang sangat dekat sekitar 100 kilometer dari bibir pantai. Sehingga kalau terjadi tsunami, waktu dari selesai gempa kemudian gelombang tsunami dengan ketinggian 0,5 sampai paling tinggi 3 meter sampai daratan sekitar 4 menit,” ungkapnya.
Sesuai hasil simulasi, dari posisi pantai mencari tempat berlindung waktunya 4 – 6 menit dan masih bisa dipercepat dalam kondisi darurat dengan catatan tidak panik.
“Dengan memahami kondisi terburuk gempa, kemudian gelombang tsunami yang demikian cepat terjadi, maka kita tidak boleh menunggu aba-aba atau menunggu perintah evakuasi, sehingga yang kita perkuat disini evakuasi mandiri,” tegasnya.
Dengan penguatan evakuasi mandiri, kata Arief, warga masyarakat sudah tahu dan memahami cara untuk berlindung saat gempanya berkekuatan besar terjadi, kemudian menyelamatkan diri paska gempa dan evakuasi ke tempat aman bilamana terjadi tsunami.
“Gempa berpotensi tsunami, dapat dikenali kasat mata dengan melihat besar dan lama terjadinya gempa, minimal itu 20 detik. Jadi rumusnya itu, 20-20-20, 20 detik kita rasakan gempa, 20 menit untuk lari untuk mencapai ketinggian 20 Meter untuk menyelamatkan diri,” terangnya.
Namun, untuk di Pengastulan mungkin tidak berlaku karena memiliki ke istimewaan atau khusus karena pusat gempa sangat dekat dengan daratan.
“Sehingga yang terpenting 20 yang pertama, kalau 20 detik kita merasakan gempa besar maka kita sudah harus lari. Namun, perlun diketahui dari simulasi dan pemetaan lokasi, beberapa tempat seperti Mesjid Taufik Rahman, Kantor Desa dan sekolah yang sudah ditandai dengan warna putih, dapat dijadikan tempat evakuasi sementara, terutama bagi kaum lansia dan disabilitas,” terangnya.
Meskipun ada teknologi canggih, karateristik gempa dan tsunami di Pengastulan yang demikian cepat, sebaiknya dihadapi dengan evakuasi mandiri.
“Dengan memahami potensi terjadinya bencana,cara dan tempat evakuasi terdekat serta cerdas menyikapi informasi bohong, karena lebih baik kita siap meski tidak terjadi, daripada tidak siap ketika terjadi,” pungkanya. (kar/jon)








