
GIANYAR – Pasien suspek meningitis yang dirawat di RSUD Sanjiwani kini bertambah menjadi empat orang.
Informasi pada Minggu (23/4/2023), dua orang pasien masuk RSUD Sanjiwani dengan gejala yang sama dengan pasien sebelumnya.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, Ni Nyoman Ariyuni mengatakan, selama Januari hingga 21 April 2023, tercatat ada 32 kasus suspek meningitis. Dari jumlah itu, 80% sudah dinyatakan sembuh dan saat ini ada penambahan dua pasien.
“Terkait dua orang yang meninggal kemarin, suspek meningitis dengan penyakit penyerta/komorbid. Per hari ini ada penambahan dua pasien sehingga total yang dirawat empat pasien,”ungkapnya.
Berbagai upaya sudah dilakukan, baik dari Dinas Kesehatan maupun Dinas Pertanian yang sudah terintegrasi. Mulai dari penekanan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yaitu pengolahan makanan hingga pengawasan ternak oleh Dinas Pertanian.
Ariyuni mengimbau kepada masyarakat apabila mengolah makanan agar dimasak dengan higienis dan matang.
Sebelumnya menyikapi kondisi tentang suspect meningitis di Kabupaten Gianyar yang menghebohkan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Gianyar telah mengambil langkah cepat dengan mengadakan pertemuan yang melibatkan berbagai unsur mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian serta para peternak yang terkena imbas dari hal tersebut di ruang rapat Sekretaris Daerah Kabupaten Gianyar, Jumat (21/4).
Sekretaris Daerah Kabupaten Gianyar, Dewa Gede Alit Mudiarta mengatakan, beberapa masyarakat Gianyar yang diberitakan terjangkit meningitis karena makan lawar plek babi, belum bisa dipastikan bahwa disebabkan oleh babi. Karena hal tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut. “Banyak hal penyebab meningitis, belum tentu hanya disebabkan babi, ada faktor-faktor lain,” ucap Sekda Alit Mudiarta.
Pemkab Gianyar melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian telah terus-menerus mengingatkan terkait PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) dalam mengolah makanan. Alit Mudiarta pun menegaskan, kasus tersebut bukan masalah bahan bakunya namun pengolahannya. “Bukan masalah babinya atau bahan bakunya, tapi bagaimana pengolahannya,” tegas Sekda Alit Mudiarta.
Hal tersebut disambut positif Ketua GUPBI (Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia) Bali, I Ketut Hari Suyasa. Dia mengatakan, semenjak merebaknya berita meningitis, masyarakat mengeklaim daging babi penyebabnya. Sedangkan meningitis sendiri dapat disebabkan oleh banyak faktor bukan dari babi saja.
Dirinya berharap kepada pihak berwenang agar ketika ditemukan meningitis, tidak serta merta mengaitkannya dengan konsumsi babi, sampai memang betul terbukti disebabkan oleh babi. Karena hal tersebut mengganggu perputaran ekonomi peternakan yang ada di Bali. (jay)








