
GIANYAR – Kisah heroik keturunan kesatria Bali, Jelantik Made Tenganan, kembali dihidupkan melalui pementasan Topeng Panca “Sura Maharata Sunia Prabawa” yang dibawakan Sekaa Gong Puspa Kencana Banjar Serongga Kelod, Desa Adat Serongga, Kecamatan Gianyar, di PKB ke 48 tahun 2026 di Kalangan Angsoka, Art Center, Denpasar, Minggu (21/6/2026).
Pementasan yang mengangkat nilai pengorbanan, bakti kepada leluhur, dan keberanian seorang kesatria ini menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton. Cerita bermula dari Kerajaan Gelgel yang dipimpin Dalem Sagening dengan dua mahapatihnya, Patih Mambal dan Patih Jelantik Made Tenganan.
Dalam kisah tersebut, Kerajaan Pasuruan dikabarkan akan menuntut balas atas gugurnya Dalem Juru pada masa Dalem Waturenggong. Melalui musyawarah kerajaan, Patih Jelantik Made Tenganan ditunjuk untuk memimpin peperangan menghadapi Pasuruan.
Namun sebelum berangkat, Jelantik Made Tenganan teringat pada peristiwa spiritual saat mandi di Sungai Yeh Unda. Ia bertemu seekor lintah yang ternyata merupakan jelmaan ayahnya sendiri yang belum memperoleh tempat layak di alam baka akibat kesalahan masa lalu.
Pertemuan itu mengingatkannya pada sabda yang pernah diterima di Pura Dalem Tungkup Kloting bersama istrinya, Gusti Ayu Lot. Dalam petunjuk tersebut disebutkan bahwa untuk meruwat dan memuliakan roh ayahnya, ia harus berkorban dalam medan peperangan.
Dengan penuh ketulusan, Jelantik Made Tenganan menerima takdir tersebut. Meski sempat mendapat pertanda buruk ketika perahunya hampir karam dalam perjalanan menuju Pasuruan, ia tetap maju ke medan laga.
Sesampainya di Pasuruan, kesaktian Jelantik Made Tenganan membuatnya tidak tertandingi. Namun demi memenuhi yadnya dan janji sucinya kepada leluhur, ia akhirnya melepaskan senjata dan bertarung tanpa senjata atau memogol hingga mengalami kekalahan.
Pengorbanan itu menjadi jalan bagi sang ayah memperoleh kemuliaan dan tempat yang layak di alam spiritual. Dari garis keturunannya lahirlah sosok Jelantik Bogol, yang kemudian dikenal sebagai simbol keberanian dan pengabdian kepada leluhur.
Pembina Tari sekaligus seniman budaya, I Made Mertanadi atau yang lebih dikenal sebagai Jro Mangku Serongga, mengatakan pementasan Topeng Panca tersebut tetap berpegang pada pakem tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
“Diawali dengan Topeng Dalem, Topeng Tua, Penasar, Arsayawijaya hingga Penamprat. Latihan kolektif sudah kami lakukan sejak awal Juli, sebelumnya juga ada latihan sektoral,” ujarnya.
Meski mempertahankan nilai-nilai tradisional, pementasan kali ini juga menyisipkan unsur hiburan melalui topeng bebondresan. Sejumlah lelucon dan kritik sosial ringan dimunculkan untuk mengangkat fenomena yang sedang terjadi di tengah masyarakat.
“Kami sisipkan lelucon untuk menggugah kesadaran masyarakat terkait berbagai fenomena terkini,” tambahnya.
Pementasan ini dibina oleh Dr. I Ketut Kodi, SSP., M.Si dan Drs. I Made Mertanadi pada bidang tari, serta Anak Agung Gde Agung Ariwamsa, S.Sn dan I Kadek Alit Suparta, S.Sn pada bidang tabuh. Karya tersebut disajikan oleh Sekaa Gong Puspa Kencana Banjar Serongga Kelod bersama Komunitas Seni Manduka Asrama.
Melalui kisah Jelantik Made Tenganan dan keturunannya, Jelantik Bogol, pementasan ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menanamkan nilai pengorbanan, kesetiaan kepada leluhur, serta semangat Atma Kerthi yang menjadi bagian penting dalam warisan budaya Bali. (*)








