
JEMBRANA – Sejumlah petani di Banjar Panceseming Desa Batuagung, Jembrana belakangan banyak yang beralih menanam porang. Hal ini karena ‘demam porang’ sekitar dua tahun silam.
Namun sayangnya, ketika tanaman porang mulai siap untuk dipanen, mereka tak mendapat harga yang layak. Umbi porang hanya laku Rp3.000 hingga Rp4.000, setiap kilogramnya. Mereka mengaku mendapat harga yang jauh dari ekspektasi ketika mulai menanam porang.
Waktu sedang ramai-ramainya petani di sini beralih ke tanam porang sekitar 2019. Mulai bibit pohon hingga bibit biji katak laku keras. Petani berduyun-duyun mencari bibit untuk tanami kebun mereka dengan porang. Ketika itu tanaman porang ratenya berada paling di atas harga bibitnya yang sudah di polybag Rp2000-2500/per pohon. Demikian pula, bibit dari biji katak bahkan harganya tembus Rp200 ribu hingga 250 ribu/kg.
Namun sekarang memasuki musim panen, umbi saja yang laku, itupun murah. “Demikian pula untuk kepentingan bibit, baik bibit asal dari pohon atau bibit biji katak, sing ada nolih (tidak ada yang mencari),” ungkap Aji Subali salah satu petani asal Banjar Pancaseming Senin (21/11/2022).
Mendapati harga yang murah, membuat kalangan petani kecewa, bayangkan ketika rame-ramenya porang diburu, harga umbinya bisa mencapai 10.000 bahkan 15.000/kg. Demikian pula, untuk bibit juga sangat menggiurkan apalagi bibit biji katak, tembus 250.000/kg.
Dikatakan, kalau hitungan biaya bibit, biaya pemeliharaan sampai biaya angkut, petani jauh merugi. Dia berharap ketika musim panen seperti ini, harga bisa normal dari sekarang. Biar tak terus petani merugi, harga porang juga diperhatikan.
Hal senada diungkapkan petani Ida Bagus Adnyana, sekarang banjir porang, malah harga tidak memadai. Saat ini memang pembelinya datang ke kebun mencari porang. “Namun sayang harga umbi porang hanya Rp10.000/4 kg. Sehingga boleh dibilang petani dengan terpaksa memanen porangnya, kalau dibiarkan di kebun juga tak baik (busuk) dipanen juga harganya terlalu murah. Ya dari pada tak ada yang membeli sama sekali. Ya diterima saja, walau murah. Karena petani juga tak bisa mengolah umbi porang,” kata Adnyana.
Dari keterangan pembeli porang yang dia dapat, disebutkan bahwa porang dipasarkan keluar negeri, bukan untuk diolah di sini. “Ada yang bilang dikirim ke Cina untuk bahan lem, hingga kosmetik bahkan untuk tepung,” katanya. (ara,dha)








