
KARANGASEM — Jangan salah tafsir. Wilayah berbukit nan tandus bukan berarti tidak memiliki potensi yang layak untuk dikembangkan. Seperti di Desa Abang, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, yang dikelilingi bebukitan dan terselip hamparan sawah, kini digadang-gadang untuk dijadikan sumber pendapatan.
Perbekel Desa Abang I Nyoman Sutirtayana mengaku terobsesi untuk bisa mewujudkan wilayahnya sebagai kawasan objek wisata berkonsep natural. Inovasi yang dilakukan itu tidak terlepas dari tekadnya untuk mendorong percepatan peningkatan taraf ekonomi masyarakat, selaras dengan kebijakan Pemerintah Daerah melalui visi -misi Prakerti-Nadi yang kini tengah dijalankan Bupati dan Wakil Bupati Karangasem I Gede Dana-I Wayan Artha Dipa.
Berangkat dari konsep pemikiran jurnalisme yang sempat dijamahnya, Sutirtayana memberikan sentuhan dalam membangun desanya dari tidak populis menjadi populis. Dalam melakukan tata kelola sampah misalnya, aktivis media sosial dan vloger ini melakoninya dengan sangat apik dan melakukan pelarangan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. “Tata kelola sampah memang menjadi program kami di desa. Semua pirantinya sudah kita siapkan, mulai dari penyediaan kendaraan hingga petugas yang mengangkut ke TPA,” kata Sutirtayasa yang ditemui WARTA BALI pada Rabu 5 Mei 2021.
Di tengah situasi pandemi Covid-19, tekadnya untuk membangun wisata desa sudah bulat. Hanya, ia mengakui kendala yang dihadapi adalah keterbatasan angaran. Karenanya, Sutirtayasa berharap adanya investor bisa berinvestasi di desanya. “Kami punya potensi alam yang bisa dikembangkan jadi desa wisata, salah satunya lanscape Sawah Subak Abang dengan hamparan sawah yang luas dengan Gunung Agung dan Bukit Lempuyang sebagai background,”ungkap ayah dua anak ini.
Sejatinya, kata Sutirtayana, gagasan membangun desa wisata sudah tercetus di awal menjabat sebagai Perbekel Abang tahun 2019. Diawali dari pembukaan jalan usaha tani menuju Subak Abang. Ide itu juga didapatkannya dari konsep wisata Sawah Pujon Kidul di Kabupaten Malang. “Kami sudah punya masterplan Desa Wisata yang dibuatkan mahasiswa Warmadewa saat KKN di Desa Abang bernama Desa Wisata Rahayu Gemuh Desa Abang” tuturnya.
Bahkan, rencana desa wisata tersebut sudah tertuang dalam RPJMD Desa Abang sebagai sebuah rencana enam tahunan pada kepeminpinan Sutirtayana sebagai Perbekel Abang. Konsepnya sediri eko wisata yang ramah lingkungan dengan anggaran yang dihabiskan sekitar Rp 1 miliar. “Konsepnya bangunan panggung di tengah sawah. Dengan demikian, petani masih bisa bercocok tanam. Kami ingin menjalankan sinergi pertanian dengan pariwisata sesuai dengan visi-misi yang kini tengah dijalankan pemerintah daerah,” tandasnya. (wat)








