
Sampah kiriman di Bali ±150 juta ton/tahun dan terus bertambah setiap tahunnya. Didominasi sampah plastik dan bahan yang susah terurai. Pantai Kuta Bali merupakan obyek wisata internasional yang selama musim Angin Barat menjadi “tempat pembuangan” sampah laut.
(Characteristics Of Marine Litters In The West Coast Of Bali, Jurnal Segara 2017)
Pada tanggal 21 Februari 2005 silam, tumpukan sampah di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, seolah berubah menjadi sebuah bom waktu. Gas metana pada tumpukan sampah meledak, dan merenggut banyak korban. Guna mengenang peristiwa itu, pemerintah kemudian menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).
Di samping memperingati tragedi tersebut, HPSN sekaligus diharapkan mampu sebagai momen dalam peningkatan kesadaran masyarakat. Khususnya dalam hal kesadaran untuk melakukan pengelolaan sampah.
Namun ternyata, di tengah upaya itu, kondisi yang bertolak belakang justru terjadi di pesisir Pantai Kuta. Pantai berpasir putih yang terkenal keindahannya seantero dunia, setiap tahunnya mengalami nasib menyedihkan. Obyek wisata itu seolah berubah menjadi tempat pembuangan sampah secara besar-besaran.
Untuk kali ini, terhitung sejak 20 Desember 2020 lalu, sudah hampir 2 bulan pantai barat Wilayah Kabupaten Badung termasuk Kuta diterjang sampah kiriman. Catatan terakhir, total 2.700 ton sampah kiriman sudah berhasil dievakuasi dari bibir pantai Badung. Khususnya yakni Pantai Kuta termasuk Pantai Jerman, serta Pantai Kedonganan dan Jimbaran. Jika dihitung, sampah yang telah terevakuasi itu setara dengan 45 ton atau 20 Truk lebih di setiap harinya.
Dalam proses evakuasi, sampah-sampah tersebut dipungut secara manual ataupun dibantu alat berat. Yang mana sampah yang masih berserakan dikumpulkan dengan alat berat pada sejumlah titik penimbunan sementara. Untuk kemudian diangkut menggunakan truk menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Sarbagita.
Mengutip perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca ekstrem hidrometeorologi masih berpotensi terjadi hingga akhir Februari bahkan Maret 2021 nanti. Bahkan pada periode sepekan ke depan, curah hujan dengan intensites lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang diprakirakan masih berpeluang terjadi di Bali.
Hal tersebut sekaligus mengindikasikan menepinya sampah ke Pantai Kuta masih berpeluang terjadi hingga beberapa minggu ke depan. Karena sampah yang tadinya dibuang sembarangan dan mengendap pada lahan-lahan tersembunyi (sempadan sungai, sempadan jurang dan lahan kosong), tergerus dan hanyut oleh guyuran hujan menuju ke laut. Setelah di laut, Muson Barat yang membangkitkan arus susur pantai dari barat ke timur perairan Indonesia, seolah menjadi media pengangkut sampah menuju Kuta.
Diastomo dalam Investigation of Marine Debris in Kuta Beach Bali’ 2015, menyebutkan, sampah laut yang mengapung muncul dari hasil aktivitas manusia di permukaan yang terbawa arus dan gelombang yang mempengaruhi lautan. Kemudian karena faktor oceanografi serta morfologi pantai, membuat sampah tersebut terhempas menimbun Pesisir Pantai Kuta.
Untuk karakteristik, sampah kiriman tersebut 27%-nya adalah sampah anorganik yang didominasi plastik. Sedangkan 73% lainnya merupakan sampah organik, yang sebagian besarnya merupakan ranting dan batang kayu berdiameter lumayan besar. Karakteristik itu sekaligus mengindikasikan bahwa sampah bersumber dari daerah bagian barat Pantai Kuta. Seperti Tabanan, Jembrana, ataupun Tanah Jawa.
Simulasi hidrodinamik dalam Characteristics of Marine Litters in The West Coast of Bali menyebutkan, arus permukaan laut yang berkisar antara 0,05 -1,75 m/detik mampu mengangkut sampah laut dari Selat Bali selama musim Barat. Hasil studinya juga mendapatkan bahwa jika sumber sampah melepaskan 1 kg sampah/detik atau 95.000 kg selama simulasi 15 hari, maka sekitar 6.300 kg sampah akan terdampar di Pantai Kuta. Sampah memasuki Selat Bali, langsung terbawa arus ke arah selatan (dengan kecepatan 0.5 – 1.75 m/detik) sampai mencapai Semenanjung Sembelungan di timur perairan Jawa dan tiba di Perancak Bali pada hari ke-5. Sampah dari sumber lain sepanjang pantai di Bali diangkut langsung ke selatan mengikuti arus sejajar pantai dengan kecepatan 0,25 m/detik. Sampah dari sumber lain akan terdampar disepanjang Pantai Kuta pada hari ke-10, sedangkan sampah dari Selat Bali (Jawa) sampai pada hari ke-15.
Ahli lain dalam surveinya terhadap jenis dan volume sampah yang ada di pesisir Pantai Kuta pada Januari 2021 (dalam makalah Siklus Tahunan Akumulasi Sampah di Pesisir Pantai Kuta, I Ketut Tunas dkk. Tahun 2021) menemukan beberapa jenis sampah plastik, di antaranya berupa gelas air minum kemasan. Berdasarkan merek dagang yang tertera, secara umum belum pernah terlihat dikomsumsi di wilayah Bali. Terdapat beberapa tulisan daerah lain di Indonesia seperti Lumajang, Jember, Sumedang, Jawa Timur, dan Bandung (diperkuat dengan temuan beberapa topi sekolah di Jawa).
Berdasarkan temuan ini, didapatkan bahwa sampah di pesisir Pantai Kuta bisa jadi merupakan sampah laut yang terakumulasi, dan kemudian dampak dari mitigasi terbawa ke pinggir pantai, salah satunya adalah Pantai Kuta. Beberapa kajian di atas seolah menyimpulkan bahwa secara berkala pesisir Pantai Kuta akan menjadi tempat pembuangan sampah dari berbagai wilayah di Indonesia. Di sisi lain, hal itupun sekaligus menjadi bukti masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pengelolaan sampah dari sumbernya.
Padahal jika dicermati, pembuangan sampah serampangan dapat memicu berbagai permasalahan terhadap. Termasuk ancaman terhadap kehidupan binatang laut, yang terbukti dari adanya banyak bangkai yang ditemukan selama musim sampah kiriman di pesisir pantai. Di antaranya seperti kura-kura, lumba-lumba, bahkan seekor ikan paus.
Di sisi lain, citra pantai Kuta sebagai destinasi tujuan wisata internasional juga ikut terancam. Apalagi itu terjadi di tengah ketatnya persaingan destinasi antar negara, dan beringasnya para buzzer media sosial.(*)
Penulis: Ir. Anak Agung Dalem, ST. MT.
Anggota Forum Bali Lestari





