
KLUNGKUNG – Dukungan kuat mengalir kepada Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta untuk memimpin Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bali periode 2026-2030. Sebanyak 63 Pengurus Provinsi (Pengprov) cabang olahraga se-Bali bersama KONI kabupaten/kota sepakat merekomendasikan Giri Prasta sebagai Ketua KONI Bali, dengan harapan mampu mendorong lahirnya event olahraga bertaraf internasional berbasis sport tourism di Pulau Dewata.
Kesepakatan tersebut mencuat dalam pertemuan silaturahmi Pengprov cabang olahraga bersama pimpinan KONI kabupaten/kota se-Bali yang digelar di Dian’s Garden, Desa Gelgel, Kecamatan Klungkung, Sabtu (7/3/2026).
Dalam forum tersebut, para pimpinan cabang olahraga secara resmi menyerahkan surat rekomendasi dukungan kepada Giri Prasta.
Ketua Umum KONI Klungkung, Anak Agung Gde Anom, mengatakan dukungan tersebut lahir dari harapan besar insan olahraga Bali terhadap sosok Giri Prasta yang dinilai memiliki pengalaman dan kapasitas dalam mengembangkan olahraga sekaligus mengintegrasikannya dengan sektor pariwisata.
Menurutnya, pengalaman Giri Prasta saat menjabat Bupati Badung selama dua periode menjadi modal penting, terutama dalam mengelola dan mengembangkan sektor pariwisata yang berkelas dunia.
“Beliau punya pengalaman bagaimana mengelola pariwisata ketika menjadi Bupati Badung. Selain itu juga memiliki jaringan yang kuat dengan pihak swasta,” ujar Gung Anom, sapaan akrab Anak Agung Gde Anom, Minggu (8/3/2026).
Selain faktor pengalaman, Giri Prasta juga dinilai memiliki dedikasi tinggi dalam memajukan dunia olahraga di Bali. Dengan kombinasi pengalaman pemerintahan, jaringan luas serta komitmen terhadap pembinaan olahraga, para pengurus cabang olahraga meyakini Giri Prasta mampu membawa perubahan signifikan bagi perkembangan olahraga di Bali.
Menurut Gung Anom, pengembangan olahraga di Bali tidak bisa hanya mengandalkan dukungan pemerintah semata. Dibutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah, sektor swasta, serta insan olahraga untuk menciptakan sistem pembinaan yang berkelanjutan.
“Memajukan dan mengembangkan olahraga di Bali tanpa kolaborasi yang kuat antara pemerintah, swasta dan insan olahraga itu nonsens. Mengandalkan pemerintah saja juga tidak cukup, perlu dukungan swasta,” tegasnya.
Ia menambahkan, hingga kini dunia olahraga di Bali masih menghadapi sejumlah tantangan serius, salah satunya keterbatasan sarana dan prasarana olahraga serta minimnya anggaran pembinaan bagi cabang olahraga.
Kondisi tersebut kerap membuat sejumlah cabang olahraga kesulitan menjalankan program pembinaan atlet secara maksimal. Bahkan, menurutnya, tidak jarang pengurus provinsi memberikan tugas kepada pengurus kabupaten/kota tanpa diikuti dukungan anggaran yang memadai.
“Banyak cabor kesulitan sarana dan anggaran yang terbatas. Kadang Pengprov memberi tugas kepada Pengcab, tetapi tidak disertai anggaran yang memadai,” ujarnya.
Gde Anom yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Klungkung menilai kondisi tersebut perlu segera dibenahi agar Bali mampu mengembangkan olahraga secara lebih profesional, terutama jika ingin mengembangkan konsep sport tourism yang selama ini menjadi salah satu potensi besar daerah.
Melalui kepemimpinan baru di KONI Bali, ia berharap akan terbangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah daerah dan sektor swasta dalam meningkatkan kualitas pembinaan atlet sekaligus memperbaiki fasilitas olahraga.
“Kolaborasi pemerintah dan swasta diharapkan mampu membuat olahraga Bali lebih maju dan diakui di tingkat dunia,” harapnya. (yan)








