
KLUNGKUNG – Hari pertama pelaksanaan Program Angkutan Siswa Gratis (Angsis) yang digulirkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung di Kecamatan Dawan, Senin (19/1/2026), langsung dihadapkan pada sejumlah tantangan. Persoalan utama yang mencuat adalah keterbatasan armada, sehingga sejumlah sopir terpaksa melakukan dua kali perjalanan (double trip) demi memastikan seluruh siswa tetap bisa berangkat ke sekolah.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kabupaten Klungkung, I Wayan Putra Suwijana, mengungkapkan jumlah kendaraan angkutan siswa yang saat ini beroperasi di Kecamatan Dawan memang belum ideal. Pada tahap awal, Dishub Klungkung baru mampu menyiapkan 50 unit armada, sementara kebutuhan ideal berdasarkan kajian mencapai 80 unit kendaraan.
“Dari hasil kajian sebelumnya, Kecamatan Dawan idealnya membutuhkan sekitar 80 armada. Artinya masih ada kekurangan kurang lebih 30 unit kendaraan,” jelas Putra Suwijana saat dikonfirmasi.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pola operasional di lapangan. Sejumlah sopir harus melakukan dua kali penjemputan agar seluruh siswa dapat terangkut dan tiba di sekolah tepat waktu. Meski demikian, Dishub Klungkung memastikan program tetap berjalan sambil dilakukan evaluasi menyeluruh pada masa awal pelaksanaan.
“Dengan armada yang ada, sementara ini sopir memang harus melakukan dua kali trip. Di awal pelaksanaan ini kami akan melakukan evaluasi, mulai dari penataan rute, jumlah siswa, hingga kebutuhan armada tambahan ke depan,” tambahnya.
Terkait tambahan biaya operasional bagi sopir yang melakukan double trip, Putra Suwijana menegaskan perhitungan ongkos tetap disesuaikan dengan jarak tempuh perjalanan, sehingga tidak merugikan pengemudi.
Gambaran kondisi di lapangan salah satunya diungkapkan oleh Nyoman Yustika, sopir angkutan siswa gratis yang melayani rute menuju SMP Negeri 2 Dawan. Pada hari pertama operasional, Yustika mengaku harus bolak-balik menjemput siswa dari beberapa titik pemukiman.
“Tadi saya sampai dua kali menjemput siswa. Dalam satu hari bisa mengantar sekitar 30 siswa ke SMPN 2 Dawan,” ujarnya saat ditemui di depan sekolah.
Pria asal Desa Selat, Kecamatan Klungkung itu menilai Program Angkutan Siswa Gratis sangat membantu siswa dan orang tua, meskipun di awal pelaksanaan masih ditemui berbagai keterbatasan. Demi mendukung program pemerintah tersebut, Yustika bahkan memilih menghentikan sementara profesinya sebagai sopir angkutan umum reguler.
“Sebelumnya saya mengambil trayek Klungkung–Karangasem, rute Muncan–Pesangkan. Sekarang saya fokus jadi sopir angkutan siswa gratis di Kecamatan Dawan,” ungkapnya.
Komitmen terhadap program Angsis juga datang dari lingkungan keluarga. Yustika menyebutkan anaknya kini turut menjadi sopir angkutan siswa gratis, meski bertugas di wilayah yang berbeda.
“Anak saya juga jadi sopir angkutan siswa gratis, tapi di Kecamatan Klungkung. Kalau saya melayani rute Banjar Muncidan, Desa Sulang, Desa Sampalan sampai ke SMPN 2 Dawan,” tandasnya.
Program Angkutan Siswa Gratis sendiri merupakan salah satu terobosan Pemkab Klungkung untuk meningkatkan akses pendidikan yang aman, nyaman, dan terjangkau, sekaligus menekan risiko kecelakaan lalu lintas akibat penggunaan kendaraan pribadi oleh pelajar. (yan)








