
Pj Bupati Klungkung I Nyoman Jendrika bersama pemerhati sejarah Gusti Made Warsika meninjau Pemedal Agung yang kondisinya sudah retak dan temboknya ambrol
KLUNGKUNG – Pemedal Agung yang merupakan bekas gapura Kerajaan Klungkung, kondisinya kian hari kian memprihatinkan. Struktur bangunan yang mengapit pintu berukir sudah retak.Bahkan pada bagian sudut tembok bangunan sudah jebol. Demikian pula pada tembok samping di sisi selatan juga sudah ambrol.
Penting bagi pemerintah daerah melindungi, merawat dan melestarikan situs sejarah yang satu ini.
Bangunan bersejarah yang terletak di kawasan objek wisata Kerta Gosa ini membutuhkan upaya revitalisasi segera agar lestari bagi generasi mendatang, tetap menjadi sumber pengetahuan, kebanggan budaya serta pendulang PAD Klungkung.
Penjabat (Pj) Bupati Klungkung I Nyoman Jendrika meninjau kawasan Kerta Gosa termasuk melihat dari dekat kondisi Pemedal Agung, Minggu (29/12/2024)
Jendrika didampingi pemerhati sejarah Gusti Made Warsika, menyatakan prihatin dengan kondisi Pemedal Agung. Jendrika yang mendapatkan cerita dari Gusti Warsika,kalau Pemedal Agung merupakan satu-satunya gapura dari kerajaan di nusantara yang tidak dihancurkan oleh penjajah.
“Ini menandakan bahwa kita selaku masyarakat Klungkung memiliki semangat, baik masyarakat maupun Pemda perlu merawat cagar budaya ini, bisa melakukan revitalisasi bangunan sejarah ini,” tandas Jendrika.
Auditor PPATK ini menegaskan kondisi struktur bangunan Pemedal Agung memprihatinkan. Karena kiri- kanan Pemedal Agung sudah hancur, rawan roboh.
“Kami akan mencoba mengkomunikasikan masalah ini dengan pemimpin lima tahun kedepan (bupati terpilih). Kami juga akan melaporkan kondisi ini ke Pemprov Bali sekiranya ikut memberikan perhatian dengan bantuan keuangan khusus,” katanya.
Jendrika menambahkan, tidak ingin terjadi sesuatu pada bangunan Pemedal Agung. Mengingat kondisi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlangsung hingga Februari 2025.
“Karena kondisinya setiap hari makin memprihatinkan, kami tidak ingin cagar budaya ini roboh karena kita kurang memperhatikannya,” demikian Jendrika.
Menurut pemerhati sejarah Gusti Made Warsika yang juga penulis buku sejarah Kerta Gosa, Kerta Gosa termasuk Pemedal Agung merupakan fakta sejarah yang perlu dijaga, dirawat. Warsika yang kini dipercaya sebagai ketua FKUB Klungkung mengatakan, Kerta Gosa sejak tahun 1917 sudah menjadi objek wisata. Namun pemeliharaan bangunan-bangunan bersejarah di kawasan tersebut kurang maksimal.
Saya takut hujan-hujan sekarang ini, (Pemedal Agung) bisa jebol kalau tidak segera ditangani. Kasihan siapa yang mampu mengembalikan. Tamu bisa komplain, ada bangunan yang sudah keropos,sudah ada yang jebol. Kondisi itu diperhatikan oleh wisatawan. Air kolam Kerta Gosa juga hijau,” ungkap Gusti Warsika.
Ia mengaku sempat menyarankan agar air kolam Kerta Gosa tidak menggunakan air PAM tapi memanfaatkan air sumur bor sehingga lebih jernih dan bersih.
“Pemedal Agung sudah retak- retak dan sudah ada roboh, tapi belum mendapatkan penanganan serius. Jangan sampai ini roboh. Karena ini menghasilkan uang, tolong (penanganan) diprioritaskan. Kita ingin melihat ini segera direvitalisasi dengan baik,” pungkas Gusti Warsika. (yan)








