
Dalam tradisi Hindu di Bali dikenal perayaan Hari Tumpek Uduh. Tumpek Uduh atau Tumpek Wariga dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Sangkara, pencipta tumbuh-tumbuhan.
Praktik penghormatan itu kini menghadapi tantangan serius dalam kehidupan modern. Tantangan itu terlihat ketika isu krisis lingkungan menguat, eksploitasi alam mengabaikan daya dukung lingkungan, serta hubungan manusia dengan ekosistem alam semakin renggang.
Fenomena itu menjadi paradoks. Di tengah kemajuan pengetahuan dan teknologi, manusia modern justru semakin jauh dari kedekatan dengan alam.
Sepanjang sejarah peradaban, homo sapiens menjadi kekuatan utama dalam perubahan ekologi global (Harari, 2019:84). Harari menegaskan betapa besarnya dominasi manusia modern atas alam. Manusia bahkan seolah merasa sebagai pemilik semesta. Dalam beberapa kasus, eksploitasi itu tampak dalam berbagai bentuk: sungai dijadikan tempat pembuangan limbah, langit dipenuhi asap industri, hutan diubah menjadi kota, lahan hijau disulap menjadi beton, bukit dipotong untuk vila, bahkan laut direklamasi menjadi daratan.
Manusia tampaknya sedang membangun peradaban yang terputus dari alam. Dengan pengetahuan dan teknologi yang dimiliki, manusia seakan mampu mengubah apa pun sesuai kehendaknya. Alam pun kerap dipandang semata-mata sebagai komoditas ekonomi.
Ironisnya, di tengah banyaknya regulasi lingkungan, kerusakan ekologis masih terus terjadi. Perbuatan setiap individu sesungguhnya memiliki efek kosmis (Donder & Wisarja, 2012:124). Pesan itu menegaskan bahwa setiap tindakan merupakan energi yang dilepaskan ke alam semesta. Semesta bekerja layaknya gaung. Apa yang dipancarkan manusia akan kembali dalam bentuk reaksi berantai yang memengaruhi keseimbangan alam.
Prinsip tersebut sejalan dengan pandangan Isaac Newton (1643-1727), “Setiap aksi memunculkan reaksi yang setara”.
Hari ini manusia sedang menghadapi konsekuensi dari tindakannya sendiri terhadap bumi. Ketika hutan hilang, banjir datang. Saat lahan hijau menyusut, ancaman krisis pangan meningkat. Ketika udara tercemar, penyakit pun bermunculan. Keterputusan manusia dari alam bukan hanya melahirkan krisis ekologis, tetapi juga krisis spiritual.
Manusia sesungguhnya tidak perlu terlalu takut pada bencana. Sejalan dengan pandangan Harari (2019), yang patut dikhawatirkan justru adalah manusia itu sendiri.
Perayaan Tumpek Uduh atau Tumpek Wariga yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Wariga menjadi momentum untuk membangkitkan kembali kesadaran kolektif bahwa manusia bukan penguasa mutlak alam, melainkan bagian dari ekosistem.
Dalam praktik budaya, Tumpek Uduh tidak boleh berhenti sebatas seremoni tanpa implementasi nyata.
Karena itu, makna Tumpek Uduh perlu diperluas menjadi gerakan ekologis konkret, mulai dari pengelolaan sampah, menanam pohon, menjaga sumber air, hingga memperkuat literasi lingkungan.
Sementara itu, pemerintah harus menggunakan perangkat kekuasaan untuk menjalankan aturan secara konsisten dan profesional.
Tumpek Uduh bukan sekadar tradisi Hindu Bali, melainkan membawa pesan universal bahwa peradaban manusia hanya dapat bertahan jika hidup selaras dengan alam. Bukan sebaliknya mempertahankan zaman Antroposen, yakni era ketika manusia menjadi kekuatan dominan yang mengubah geologi, ekosistem, dan iklim bumi.
Antroposen bukan sekadar istilah ilmiah, melainkan peringatan atas krisis lingkungan global yang sedang dihadapi manusia. Pada akhirnya, jika alam sejahtera manusia pun akan sejahtera (Wiana,1997:73). (*)








