
DENPASAR – Kebakaran hutan yang melanda kawasan Pemuteran, Kabupaten Buleleng, sejak Jumat (17/7/2026) akhirnya berhasil dipadamkan pada Sabtu (18/7/2026).
Di tengah keberhasilan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, mengatakan api di kawasan hutan Pemuteran berhasil dipadamkan sekitar pukul 15.00 WITA setelah upaya pemadaman yang dilakukan secara intensif oleh tim gabungan.
“Hutan yang terbakar berupa semak belukar, rumput kering, dan pepohonan liar dengan luas sekitar 10 hektare. Syukur api sudah berhasil dipadamkan,” ujarnya.
Pemadaman melibatkan personel Polhut, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Barat, BPBD Provinsi Bali, BPBD Buleleng, TNI, Polri, serta para relawan. Menurutnya, meskipun sebagian besar api padam secara alami, kerja keras tim gabungan berperan besar dalam mengendalikan kebakaran agar tidak meluas.
BPBD menduga kebakaran dipicu kondisi lahan yang sangat kering akibat musim kemarau, sehingga gesekan pada vegetasi kering diduga menjadi penyebab munculnya api.
Seiring meningkatnya risiko kebakaran, BPBD juga mencatat dampak musim kemarau mulai dirasakan di sejumlah wilayah Bali. Dalam sepekan terakhir, terjadi kekeringan lahan sawah sekitar 50 hektare di Kabupaten Jembrana dan 108,6 hektare di Kabupaten Buleleng akibat mengeringnya sumber air.
Meski belum menyebabkan gagal panen, kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius. Selain itu, sejumlah desa juga mulai mengalami krisis air bersih, salah satunya Desa Manistutu di Kabupaten Jembrana.

Mengantisipasi dampak yang lebih luas, BPBD meminta instansi terkait mengambil langkah cepat. Dinas Pertanian diminta membantu petani melalui penyediaan pompa irigasi maupun upaya lain agar produksi pertanian tetap terjaga.
Sementara itu, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup diminta meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, baik di kawasan hutan maupun tempat pembuangan akhir (TPA).
BPBD juga meminta Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida mempercepat pengerukan sedimentasi di bendungan dan sungai. Di Kabupaten Jembrana, sedimentasi yang tinggi di Bendungan Palasari dan sejumlah sungai disebut telah mengurangi distribusi air ke lahan pertanian.
“Debit air di bendungan sudah sangat menyusut sehingga sedimentasi menjadi persoalan yang harus segera ditangani,” kata Teja.
BPBD berharap seluruh instansi terkait dapat memperkuat koordinasi dalam menghadapi puncak musim kemarau guna meminimalkan risiko kebakaran hutan, kekeringan, krisis air bersih, hingga potensi gagal panen di berbagai daerah di Bali. (*)








