
Seperti sudah kita ketahui Hari Raya Saraswati merupakan hari raya besar Umat Hindu yang jatuh setiap 210 hari sekali. Sesuai penanggalan Bali, Hari Raya Saraswati jatuh pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Pada moment itu, didedikasikan untuk pemujaan Dewi Saraswati sebagai simbol ilmu pengetahuan.
Lantas bagaimana memaknai Saraswati di tengah pesatnya perkembangan teknologi khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ?
Kemajuan AI telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi. Informasi kini tersaji dalam hitungan detik, Namun tidak semuanya benar atau bermanfaat. Di era banjir informasi seperti sekarang, tantangan terbesar adalah kemampuan menapis dan memaknai informasi itu sendiri.Tanpa penapisan serta naluri kritis dan sikap bertanggung jawab, kecanggihan teknologi justru bisa menjerumuskan manusia pada disinformasi, manipulasi, bahkan degradasi moral.
Hari Raya Saraswati bisa menjadi momentum yang sangat relevan, tidak sekedar dimaknai sebagai ritual keagamaan.Setidaknya kita bisa memetik makna dari atribut yang dibawa oleh seorang dewi yang cantik (Dewi Saraswati).Semisal, kita tertarik dengan seorang wanita cantik, maka kita juga mesti tertarik dengan ilmu pengetahuan yang dipersonifikasikan sebagai dewi yang cantik membawa daun lontar. Nilai-nilai Saraswati mendorong lahirnya sikap kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam menggunakan ilmu pengetahuan, sebagaimana burung angsa yang mendampingi Dewi Saraswati.
Perkembangan AI juga menuntut manusia untuk terus belajar dan beradaptasi. Semangat belajar sepanjang hayat yang terkandung dalam makna Hari Saraswati menjadi kunci agar manusia tidak tertinggal oleh teknologi ciptaannya sendiri, sebagaimana Sang Dewi memegang Genitri sebagai simbol ilmu pengetahuan tidak habis-habis dipelajari.
Namun belajar di sini bukan hanya soal keterampilan teknis, melainkan juga pemahaman etika,estetika dan nilai kemanusiaan, seperti suara wina/rebab yang merdu, mampu menumbuhkan perasaan halus.
Teknologi pada dasarnya berada di titik tengah bersifat netral. Ia bisa berjalan ke kanan digunakan untuk kebaikan, namun juga bisa mengalir ke kiri, karena berpotensi disalahgunakan. Maka pada posisi inilah, manusia tetap menjadi pengendali.
Akhirnya, memaknai Hari Saraswati di era kecerdasan buatan adalah tentang menempatkan manusia sebagai pusat pengendali segala perkembangan ilmu pengetahuan. Kecerdasan sejati tidak hanya sekedar diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi bagaimana bijaksana dalam menggunakannya. (*)








